header image
 

melancholic saturday

maybe you were right my dear friend,
we laughed too loud and we smiled too much
that made the targedy happened as the moon set full and high
but i really wanted you to smile and be happy, my dear friend
despite all those odds that made both of us upset
and yes, those hurt me too.
maybe we shouldn’t have gone this far, my dear friend
where they said “this is what you have to pay for your career”
and they put the blame on us, for being smart and being tough
maybe we should have just been like them so that we live in security
but then again my dear friend,
it would never happen to the lives of people with courage, like us.

maybe you should not have shared your problem with me, my dear friend
for you would refer to the experience that brought me here and now;
for you would think that my here and now is going to be your future.
you shouldn’t have heard my advice for there was no wisdom in those sentence
that came from a mouth of wounded heart.
i am so sorry for that, my dear friend.

and all of that i’ve been through;
i would never want to happen again
to both of us, my dear friend.
to both of us.

Something to remember you by*

Aku menutup mataku rapat-rapat.

 

Aku berdiri di ujung daratan. Luka tersayat karang nampak halus pada kakiku yang telanjang. Kaki yang bergurat karena penat. Tebing ini begitu tinggi. Di bawahku ombak-ombak mendebur menabrak dinding batu karang. Aku berdiri di atas tebing tinggi. Dan jantungku berdegup kencang. Maka kukepalkan tangan.

 

Aku menghadap lurus ke hadapan. Aku tidak menunduk aku tidak menoleh. Dengan sapuan rambut ke pipi dan keningku. Juga mereka mengusap mataku. Mata yang menatap matahari jingga. Matahari yang berluntur dengan laut biru. Aku menatap matahari itu. Ketika aku berdiri di ujung daratan. Di atas tebing tinggi. Dengan debur ombak bersuara gagah.

 

Baju putih katunku. Dengan sulaman bunga dahlia pada ujung-ujungnya. Mereka terkibar angin senja. Ketika aku berdiri di ujung daratan. Di atas tebing tinggi. Rok putih berenda tipis, lemah terayun menggelitik betis-betisku. Kakiku yang pucat telanjang. Tanganku terlentang. Memeluk angin dan meremas buih-buih asin lautan. Mataku menatap terus ke depan. Apabila kukedipkan, gumpalan airmata di pelupuknya terdorong keluar dan membasahi pipiku. Dan diterbangkan lagi dengan angin. Bercampur buih berlunturan dengan jingga senja. Dan aku berdiri dengan kaki telanjang tangan membentang. Di ujung daratan di atas tebing tinggi.

 

Aku menggigit tipis-tipis bibirku yang kering. Kulitnya terkelupas dan retak kecil-kecil. Perlahan dan bergetar, aku tersenyum. Aku menggerakkan bibirku yang kulitnya terkelupas itu. Ketika aku berdiri di ujung daratan. Kakiku telanjang. Airmataku gilir bergilir menuju pipiku. Dan sebagiannya terbang bersama buih dan meluntur dalam jingga senja. Aku masih mengepalkan jemari dan membentangkan tanganku. Ketika aku berada di atas tebing tinggi. Di ujung daratan.

 

Dan aku buka kembali mataku.

 

Cahaya lampu meja belajarku begitu menyilaukan pandangan. Aku hapus airmata di pipiku. Aku teguk airputih dalam cangkirku.

Aku kembali pada kertas dan pena di hadapanku.

Aku harus teruskan lagi kerja dan tugasku.

 

*Keith Jarrett,  in the The Melody at Night, With You.

Vienna Concert - Keith Jarrett

I was writing a letter for a friend of mine when I decided to switch my iPod from the “Cinema Paradiso ost.” To “Jarrett, Keith”. I played the “Vienna Concert”, the album this friend of mine gave me. It wasn’t only that I was curious to listen this popular composition, but as I agreed to “The Sinister”, my friend =), that I tended to be such a melancholic and romantic person :”>

So I thought it would be simply nice to write him while I listened to the music he gave me.

But then, it turned out to be no longer a romantic, but pathetic moment.

It didn’t take so much concentration to write him, actually. Because I was getting used to write him (and read his ‘essays’ instead of letters :P); and as we understood each other, I didn’t worry anymore that my English was going to be too poor for him~^^. So listening to music and writing him my ‘essays’ (but not as much as his~^^) should have been simply possible to be done.

 

But as listened to the Vienna Concert part 1, I felt so much distracted by Jarrett solo performance. I knew “Koln Concert part 1″ could make me cry, and “My back pages” from the album “Somewhere Before” could make me smile. But the Vienna Concert part 1, especially the beginning part (from more than 40 minutes) was something else! It was too quiet, and demanding!

By ‘demanding’ I meant he really expected me to focus on his sentences (that he delivered by the keyboard of “Steinway & Sons”) and he demanded me to stop writing, I couldn’t think of anything else, I forgot what to share and write. I totally couldn’t think of anything else but to listen to Jarrett’s wordless story. The story that he represented in order to bring my memories appears in the screen of my brain! My path, I remember the walk I made. I saw my sweet, depressing, wonderful, as well as hurtful road I had been through. I made conversation with Jarrett, inside my head, in a leisure pace, over a hot coffee and chilly rain.

I sometimes wiped my cheek from the tears that fell as I listen to his intense emotion. And I felt so pathetic when after about 20 minutes he repeated similar tone over an over. It was too depressing and made me say: “C’mon Man, move on…” and indeed, I wasn’t so sure if I told that to him, or to myself.

Apart from so many wonderful pieces my friend gave me: The Portico Quartet (so glad I know them^^), Manu Katche, Dave Holland, Julia Sassoon, Brad Mehldau, Pat Metheny, and so much more; this Vienna Concert was something else. I cant explain why it was different, but my heart said so and I about to quit questioning it so much now ^^.

identitas etnik, seberapa pentingkah?

Pada hari Kamis, 27 Maret 2008 yang lalu, Kumpulan Penyelidik Hubungan Etnik dan Pendidikan Fakulti Pendidikan bekerja sama dengan Institut Kajian Etnik (KITA) - UKM mengadakan “Kolokium Identiti, Etnisiti, dan Pendidikan” yang sebenarnya dijalankan untuk keperluan projek merancang modul pengajaran yang dapat meningkatkan perpaduan antar etnik, yang kemudian akan digunakan di sekolah-sekolah menengah di semenanjung Malaysia.

Kebetulan saya pembantu kumpulan penyelidik tersebut, jadi saya wajib ikut kolokium tadi. Celakanya, saya merasa menikmati ilmu pengetahuan yang didapat dari kolokium tersebut. Kenapa celaka bukannya bersyukur? wah kalau bersyukur sih pasti, ya. namanya dapet ilmu, pastilah saya senang. Tapi, saya jadi sempat tergoda untuk menceburi bidang ini. Padahal saya sudah berkomitmen pada bidang pendidikan yang lain, dan saya tidak mau seperti kata pepatah ” leave too many fingers in too many pies” (terjemahan bebasnya: ke sana ke mari ngga jelas dan ngga fokus). Tapi walau bagaimanapun, saya sangat terdorong untuk membagi pelajaran (yang sudah terkontaminasi dengan kesan pribadi saya) tentang kolokium tersebut.

Hal yang menarik adalah peserta dan pemakalah  yang terdiri dari para pakar hubungan etnik dan pendidikan multikultural, baik dari Malaysia (UKM, UPM, USM, dan Bahagian Pendidikan Guru - Kementrian Pelajaran Malaysia) dan juga beberapa dosen dari Universitas Pendidikan Indonesia (yang kesemuanya dari Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial - Jurusan Sejarah). Blend yang seru, sebab konsep etnik di Malaysia dan di Indonesia diperbandingkan, isu-isu  termasuk kebijakan masing-masing negara juga dikomparasi sehingga saya sangat diperkaya dengan wacana perpaduan, yang sebelumnya hampir tidak pernah saya pelajari secara sengaja (dan mungkin kali itu juga tidak sengaja).

Asimilasi; itulah yang menjadi perbedaan pertama (dan utama) dari proses perpaduan antar masyarakat berbeda etnik di Indonesia dengan di Malaysia. Indonesia, dan ini juga terjadi di Thailand, menuntut masyarakatnya untuk berasimilasi. Di Indonesia, warga negara menyatu dengan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”. Terlebih lagi selepas Reformasi, dalam KTP tidak ada lagi identitas “Warga Negara Asli” atau “Warga Negara Keturunan”. Saya sempat curiga (dan curiga dalam keilmuan tidak mesti dikonotasikan negatif ya), bukannya penghapusan tersebut adalah usaha  yang seolah-olah menihilkan perbedaan; yang jelas-jelas adalah usaha yang terlalu naïve? Tanya saya dalam hati.

“Bukan,”  segera kepala saya menjawabnya selepas merujuk pernyataan Dr. Sarjit S. Gill, seorang pakar etnik dari UPM dan fokus pada kajian etnik Sikh (mereka tidak berbahasa Tamil, tetapi Punjabi). Dr. Gill memuji usaha pemerintah Indonesia yang tidak terlalu mengambil berat latar belakang etnik seseorang. Menurut beliau justru partai politik Malaysia-lah yang melestarikan perkauman (etnosentrisme) di Malaysia. UMNO sebagai partai etnis Melayu, berusaha menjadi pahlawan kaum Melayu, MCA mengemban amanat Cina, dan MIC (walau ternyata gagal) mau menjadi penjuang aspirasi India. Kenapa partai harus mengelompokkan kaum, seakan-akan tidak ada yang namanya kepentingan ‘bangsa Malaysia’ dan yang ada malah kepentingan etnik? Demikian ujar Dr. Gill yang membuat saya mengangguk-angguk membenarkan (dan ini silakan dibandingkan dengan partai-partai berbasis agama di Indonesia, teman-teman).

Seperti juga di Thailand, kaum keturunan Tionghoa di Indonesia mempunyai ‘nama lokal’. Teman saya di Jakarta, namanya Liu Lian Fei, tetapi di KTP namanya: Sari Liu. Kemudian sebut nama lain seperti Salim, Ciputra, dan sebagainya yang fasih berbahasa Jawa. Dan tidak banyak lagi generasi muda keturunan Tionghoa di Indonesia yang fasih berbahasa Mandarin, Hokkian, dan sebagainya (kecuali mungkin di beberapa daerah seperti Medan, Surabaya, dan Pontianak - ini sih pengetahuan saya, silakan bantah). Kalaupun mereka bisa berbahasa Cina, tetap mereka mengakui bahasa Indonesia, ditambah dengan bahasa lokal (Jawa, Sunda, dsb). Sehingga warga negara Indonesia keturunan Cina, di Singapore sering disebut OCBC (yang sebenarnya adalah nama Bank), kependekan dari Orang Cina Bukan Cina. Di Malaysia, ada juga istilah “Banana Man”, orang yang kulitnya kuning, tetapi isinya putih karena tidak berbahasa Cina tetapi menggunakan bahasanya ‘orang putih’ (Bahasa Inggris). Dr. Dadan Supardan dari UPI juga menambahkan contoh asimilasi yang kental, di mana tidak ada keengganan masyarakat non-Cina di Indonesia untuk menggunakan istilah-istilah bahasa Hokkian, “cepek, gopek, goceng…”.

Di Malaysia bahkan dibentuk satu departemen yang khusus menangani masalah perpaduan antar etnik, yaitu Jabatan Perpaduan Negara. Tetapi para expertise di bidang etnik siang itu ramai-ramai setuju bahwa kerajaan Malaysia sebenarnya bersifat dualisme dalam hal perpaduan. Selain dari budaya politik yang mengekalkan perkauman, sistem pendidikan di Malaysia juga secara formal sudah mengekalkan ketidaksepaduan. Sejak peringkat pendidikan dasar, sekolah negeri, yang di Malaysia dikenal dengan istilah Sekolah Kebangsaan, sudah dipisah-pisahkan antara Sekolah Jenis Kebangsaan (SJK) Cina (SJKC), India/ Tamil (SJKT), dan Sekolah Kebangsaan (yang didominasi Melayu). Bahasa pengantar dan lingkungan masing-masing sekolah akhirnya kembali monokultur. Ketika sejak kanak-kanak sampai remaja mereka terbiasa pada lingkungan yang monokultur, sejauh mana mereka luwes untuk hidup dalam masyarakat yang ternyata multikultur? Meminjam istilah Prof. Datuk Shamsul yang menjadi keynote speaker hari itu, “Buluh sudah menjadi bambu, sudah kaku dan keras. Mau diajar untuk luwes? Ya terlambat lah!”

Indonesia boleh merasa unggul dalam hal sistem formal yang diterapkannya. Walaupun ada sekolah-sekolah yang mayoritasnya etnik tertentu (misalnya di daerah Jakarta Kota, sekolah negeripun menjadi sekolah(nya) Cina, menurut saya itu wajar mengikut demografi dan geografisnya) tetapi tidak ada legitimasi bahwa sekolah-sekolah tersebut adalah Sekolah Jawa, Sekolah Cina, Sekolah Batak, dan seterusnya. Sewaktu kita mengisi formulir tertentu, misalnya aplikasi bank di Indonesia, kita juga bersyukur tidak ada pertanyaan soal etnik. Tidak seperti di Malaysia yang mementingkan etnik dimana pada hampir semua borang (form), penulis harus menyatakan apakah dirinya Melayu, Cina, atau India, atau bahkan “lain-lain” (inilah yang saya benci dari data kuantitatif, seolah-olah kalau kamu minoritas, kamu pantas diintifikasi sebagai ‘others’). Maka dalam banyak hal yang berhubungan dengan perpaduan etnik, sebenarnya masyarakat Indonesia sudah lebih siap untuk hidup bersatu padu.

Dan untuk menutup rangkaian pertama dari seri perpaduan etnik (rencananya saya memang ingin share lebih banyak, tetapi supaya tidak terlalu membosankan, saya penggal dulu di sini), saya ingin berbagi hasil penelitian tahun 2007 di negeri Selangor tentang perpaduan etnik. Kajian yang dilakukan oleh Dr. Zahara Aziz et al. menunjukkan bahwa tahap pendidikan seseorang berhubungan erat dengan sikap terbuka untuk bersepadu dengan etnik yang lain. Dapatan ini menjadi satu bahan refleksi saya, apakah gelar Master ini akan membuat saya lebih bijaksana dalam melihat diri saya sebagai Sunda - Palembang yang besar di Jakarta (dan 4 tahun di Jogja); sekaligus melihat orang lain yang berlatar belakang etnis berbeda dengan saya; sekaligus pula menilai sejauh mana pentingnya identitas etnik saya dan lingkungan saya? Something to think about, my dear Indonesian fellows.

Orang Kampung Nonton F1

Dari Hillside (Gate C2) Sepang Circuit siang tadi, saya mencoba untuk telpon sahabat saya (tidak ada kata ‘mantan’ untuk sahabat, yang ini saya kekeuh banget) dan ceritanya mau pamer suara gemuruh mesin-mesin si ceper-ceper yang super kenceng dan super keren itu. Saya mau pamer kegembiraan saya bisa berada di sana, mengalungi 40D (tiba-tiba jadi mini banget dibandingin lensa-lensa ‘gayung’ yang betebaran di sana :P) dan berada di antara penggemar Formula 1.

Sahabat saya ini memang dulunya partner nonton F1 lewat kaca tivi. “Sa, Kimi mesinnya jebol!” atau “Sa, Alonso keluar!” begitu yang biasanya dia teriakkan dari ruang tivi rumah saya ketika perhatian saya seringkali teralih ke isi kulkas :P. Memang cerita itu sudah sangat lama sih, tapi kan saya sudah kekeuh bahwa tidak ada istilah ‘mantan’ dalam persahabatan. Dan maknanya, kenangan-kenangan yang menyenangkan itu tidak akan pernah basi untuk saya.

Maka tadi siang juga demikian, dua orang yang saya coba telpon adalah dia dan kakak ipar saya, yang anaknya dikasih nama sama dengan nama kecil Kimi Raikonnen, Raka. Mereka adalah partner andalan saya kalau membahas F1 (Aan, kamu di mana?!). Dan dua-duanya tidak menjawab telpon saya (apes! Emang ga boleh pamer kali ya hehe). Akhirnya kedua-duanya saya sms aja (pantang menyerah! Hehe). Sms saya untuk sahabat itu adalah begini:

“Payah ah… gw mau pamer suara gemuruh sepang circuit padahal…penting tuh! :P”

Sahabat saya ini memang pernah berpesan bahwa jangan telpon kalau ngga penting-penting amat. Makanya saya tegasin di sms saya, ‘pameran’ saya ini sangat penting. Excitement yang saya rasakan ketika mendengar suara raungan mesin, dan ledakan bak kembang api ketika mobil-mobil tersebut berbelok, luar biasa! Saya rasa akan sangat menarik berbagi perasaan ini kepada orang yang saya tahu betul juga penggemar F1 (ngga tau ya kalo sekarang ngakunya ga suka lagi. Tapi kalau dia bilang demikian pun mungkin akan saya acuhkan seperti ketika dia mengaku demikian tentang jazz. Tidak mungkin!).

Ketika menunggu race berikutnya dan saya duduk di atas rumput di hillside sepang circuit (ya, saya mengulang-ulang lokasi ini… tandanya saya benar-benar excited!), rupanya sms saya sudah terbalas, begini bunyinya: “Kampung lo. D&$#n lg tidur, “

Ha? … hahaha… mulai lagi nih… hahaha… begitulah reaksi saya. Sayangnya saya tengah bersama orang-orang yang baru kenal saya siang itu (yang cuma tahu saya penggemar Kimi dan saya mahasiswa dari Indonesia), di hillside Sepang circuit. Jadi kalau saya ketawa-ketawa baca sms, pasti teman-teman satu tim saya itu (haha) pada bingung. Akhirnya ya saya balas saja sms itu dengan tidak kalah nyolotnya (hehe… ini namanya alien vs predator): “Daripada pe%$*ur, mendingan kampung hehe.. kasian amat si lu, masih aja takut ama gw..”

(as I always said: perang adalah ekspresi termudah dari kecemasan)

Sinting memang, saya benar-benar kasar banget menyebut dia begitu. Biarlah! Saya terlalu senang untuk merasa bersalah. Gimana ngga senang, wong saya lagi ada di hillside sepang circuit kok. Wong baru diumumin kalau Massa mencetak waktu tercepat kok. Mana bisa saya bete?

Hmm, but it could be something to discuss, anyway. Kampung? Iya juga sih, soalnya di kampung saya di ciputat tidak ada circuit macam ini (yang ada hillsidenya seperti ini, yang saking deketnya, bisa ngelempar botol aqua ke jalan buat cari-cari perhatian Kimi), dan seumur-umur memang ini pertama kalinya saya nonton F1 live, jadi budek mendadak, dan tentu saja, jadi kampungan mendadak. Lari ke sana kemari untuk memastikan sebisa mungkin ke mana mobil merah itu pergi, berharap-harap cemas mereka berdua akan senantiasa kenceng dan aman. Bersorak-sorak ketika Massa menyalip Hamilton di depan mata, Yippie! High five bersama orang-orang yang berbaju merah-merah, membawa bendera gambar kuda, kami semua jadi orang kampungan. Ada yang dari kampung Barcelona, kampung Bukit Timah di Singapore, kampung Penang, kampung … . Kampung global, mbak; pernah denger? Global village, kan embak anak pinter pasti embak tahu lah.

Eh, rupanya sms saya dibalas lagi (iyalah Sa, jangan sok kaget deh. Setelah menyebut dia dengan “P” gitu, masa berharap dia adem ayem aja sih), “Gausah saling menghina pake telpon gw, gw dah cape, kontak ke hp dia, 0856789xxxx, gw lg istirahat, jangan ganggu.”

Duh… lagi-lagi ga boleh kelihatan senyum-senyum aneh nih… jadi ya saya balas aja: “Gw mah mau pamer ama lu d&%, kaga ada urusan ama dia. MAN, THIS IS SO COOL!! GO KIMI!!”

Sudah lama banget rasanya; bukan saja kehilangan Kimi, Nico Rosberg, Heiki, dan kawan-kawan. Tetapi kehilangan spirit untuk nonton F1. Dulu, di 2006, saya naik sepeda dari Kolej Ibu Zain ke Hentian Kajang, sengaja pakai baju Mercedez(dulu Kimi masih McLaren) untuk nonton bareng Aan, si gila F1. Dan biasanya sms-smsan atau telpon-telponan sama sahabat saya itu untuk saling komentar tentang jagoan masing-masing (dia selalu sok ga mau kompak sama saya, menganggap Alonso lebih hebat. Who cares, Kimi lebih ganteng!). Dan di 2007, sucks! Saya kehilangan semangat itu. Kehilangan gairah minggu siang. Such a waste of year, it was. Makanya tahun ini, sebagaimana resolusi saya di tahun baru, no more penyakit-penyakit 2007 yang boleh merusak system saya lagi!!

So, si “anak kampung penggemar Iwan Fals yang pink ceria sok asik” ini kembali bergairah dengan F1-nya…. Silakan bete, silakan ngamuk. Tapi saya sih teteuuup… GO KIMI!!

forever young

Sambil mendengarkan “Hasta Siempre Che Guevara”, saya teringat salah satu penggalan kisah dari Khalifah Umar adalah ketika beliau berpidato, sebagai politikus, di hadapan rakyat yang notabene adalah kaum muslimin. Usai beliau berpidato, seorang pemuda berdiri dan mengacungkan pedangnya seraya berteriak: “Wahai Umar, apabila kami melihat engkau menyimpan, maka kami akan meluruskanmu dengan pedang ini!” Dan sang Khalifahpun bersyukur, secara spontan beliau mengucap hamdallah karena masih ada manusia, dan ia adalah pemuda, yang berani mengungkapkan kebenaran.

Ingatan ini membawa saya kepada memori yang lain, pada suatu malam di beranda depan rumah saya, diantara banyak malam-malam yang saya alami bersama mereka, sekitar lima tahun setelah putih - abu abu tidak kami kenakan lagi. Mungkin karena dipengaruhi kopi instan dan mie instan, maka sering kami menjadi pejuang politik instan juga^^. Saat itu kami yang baru menginjak dua puluhan merasa semakin miskin, karena ketika tidak lagi berlabel ‘mahasiswa’, kami mulai tersentuh kepada dunia nyata yang begitu demanding, yang menuntut kami untuk pelan-pelan melepaskan kekayaan kami yang paling kami cintai, idealisme.

Beberapa orang memetik hikmah dari penggalan kisah Khalifah Umar dengan mengatakan: “Masih muda tetapi berani menantang Khalifah. Hebat betul ia!” Tetapi saya justru mengatakan sebaliknya: “Sebab ia masih muda maka ia dapat menantang beliau.” Diikuti dengan sikap positif kawan saya: “Ya doain aja sampai tua orang-orang yang seperkasa pemuda itu bisa tetap perkasa, bisa terus konsisten menjaga nurani bangsa, tidak merasa didesak oleh kemiskinan, keinginan, dan kekuasaan.” Dan biasanya pembicaraan demikian; yang dengan iringan lagu-lagu balada seputar Iwan Fals, Ebiet, atau Redemption Song; akan membawa hati saya yang konon katanya agak alot (kalau tidak mau dibilang keras) ini kepada satu tekad: “Saya tidak akan melepaskan idealisme dan mimpi-mimpi saya, sampai tua, sampai akhir hayat.”

Dan saya yakin setiap manusia hidup dalam pilihan. Selalu ada pilihan. Dan selalu ada konsekuensi di balik pilihan mereka. Begitu pula dengan saya. PhD di Malaysia atau tidak; pulang ke Jakarta atau tidak; main softball terus atau berhenti; menyerah atau terus; menjadi oposisi atau pendukung; menjadi Rahmatan Lil Alamin atau hedonis; … menjadi pemuda sepanjang hayat atau tunduk pada usia.

La haula wala quwwata illa billah…

doa bukan basa-basi

Allah Maha Tahu, segala isi dan bagian terdalam dari hati dan fikiran manusia. Bukan saja perasaan dan ide-ide di kepalaku, bahkan Ia mengetahui apa yang tidak aku sadari. Maka mana mungkin aku dapat membohongi-Nya?

Doa adalah komunikasiku dengan-Nya. pengakuan atas ketakutanku, curahan hatiku, dan permintaanku untuk dikasihani-Nya. Doa adalah jembatan tak kasat mata yang menghubungkan kasih sayangku kepada saudara dan teman-temanku, kepada mereka yang menyayangiku, yang mendukung dan menolongku, agar Ia yang kuasa dapat membalas semua budi mereka (amin).

Allah tahu sakit pedih dan sayat-sayat yang belum kering dalam jiwaku. Allah tahu amarah dan benci yang belum padam betul dalam dadaku. Aku dapat berpura-pura, berbasa-basi mengatakan bahwa semuanya sudah kurelakan dengan lapang, kumaafkan tanpa syarat dendam. aku hanya dapat mengatakan semua itu kepadamu; tetapi aku tidak dapat mengatakan hal yang sama kepada-Nya. Ia terlalu mengenalku, maka mana mungkin aku membohongi-Nya?

Doa adalah harapan, adalah optimisme, adalah dukungan yang amat berharga, dipanjatkan kepada Ia yang sebenarnya telah mengetahui apa yang kita hendaki, apa yang kita minta, apa yang kita cita-citakan. maka mana mungkin aku membohongi Ia yang telah mengenal mengetahui segala tentangku lebih daripada aku mengenali diriku sendiri?

hal yang terlalu sedih kurasakan setelah kedua salam kuucapkan dan telah kutolehkan kepalaku ke kiri dan ke kanan, adalah ketika aku mengatakan dalam batinku: “aku tidak dapat mendoakanmu, karena aku tidak mungkin membohongi-Nya…”

some men dont take “no” for the answer?! crap!

“Some men don’t take ‘No’ for the answer,” that’s what I heard.

But I had never thought that that kind of men are so damn annoying. No matter how the N and O was written between the line, with red bold pen and underlined, they kept couldn’t read it. Or they just simply didn’t want to? And why in the world they didn’t want to understand the genuine meaning of those two letters: don’t try anymore now or later / don’t hope and please stop it / you bug me to death / if you keep trying then you would make fun of yourself.

I don’t know if I sent wrong gestures, but all I know is that I explained a lot, properly, and respectfully, as grown ups do, about how uncomfortable I was whenever he expressed his adoration towards me. If you still couldn’t understand that, I don’t want to think that it was my fault who clearly and politely said that I didn’t want you to call me anymore. I don’t want to think that probably I gave wrong message. I don’t want to think that I didn’t put the words in order so that he couldn’t feel how I was so annoyed by his behavior. No, I don’t think I made wrong about this. But I am not saying that he’s the one who was too ignorant about this, that would be too rude. Maybe, he is just simply a member of the group; a group of men who are too ‘assertive’ (see, I still try to use positive term here) and proudly say “I don’t take ‘no’ for the answer. I won’t stop just because you say ‘no’. You say ‘no’ just because you don’t know how charming I actually am… blablabla …” A group of men who loved themselves too much that they couldn’t let other people disagree about how loveable they are. Or… maybe just too weak to accept the rejection and then they make-believe that they are always loved, that there will never be a rejection in any term for them. They always think no matter how and what happen, … Oh, see, I am so frustrated that I am angry now.

 This is definitely NOT what I want for now, for this time. I should feel good about myself; rebuild my self-esteem, being a self-assured person as I always used to be. But this kind of guy doesn’t help at all instead he made me want to shout: “Ouuugh! Enough please!!!” Then this good friend of mine once told me: “We men sometimes ‘read’ the word differently. When you act like you don’t want us, we tend to think that you play ‘hard to get’. So, we don’t stop and consider you women are just trying to act like you don’t want us, like you are really damn good and worth all effort. That is natural, although sometimes women like that can be very irritating…”

BAM! Suddenly I came up with another hypothesis of his ‘never surrender’ behavior. Oh my God, would he think that I did play the ‘hard to get’ so that he felt that this is a challenge?

I don’t know what else to say… speechless yet hoping that he didn’t think I played the hard to get stuff that never even crossed in my head. I never had been ever good in the game of love. This is not my field and never been interested at all to be the MVP for this game either!

 Believe me that I am not interested at all. You keep trying to please me, calling me those names that mean ‘pretty’ or ‘beautiful’ that didn’t even help me to like you even better. Those pleas you asked me only made yourself even lower in my eyes. Why would you do that? What made you think that I would respect you more when you desperately showed that you need me to like you, accept you, and moreover, to love you? Those things you did to me only assured me how pathetic you are.

And I shouldn’t be with someone who’s desperately dreaming of me each night and wishing to be with me, following me wherever I am going. I am very sorry. I don’t want to be rude and sarcastic.

My friend, I’ve got so many plans (as my best friend called them instead of ‘dreams’ ^^) and frankly speaking, you are not in the list. I am so sorry. I thank you, it’s nice to know that I somehow could be endearing.

 But please, respect my decision.

Thank you.

wind of change bertiup di malaysia…kah?

Apakah banyak yang memprediksi kalau PRU (Pilihanraya Umum) ke-12 tahun 2008 ini akan mengukir sejarah baru negri jiran yang sejahtera dan stabil ini?

Terus terang saya tidak tahu, karena sebelum masyarakat ‘mengundi’ (mencoblos), saya malah memperhatikan bagaimana media dikuasai oleh BN (Barisan Nasional), partai koalisi yang pro-kerajaan (gabungan antara UMNO, MIC, dan MCA). Saluran-saluran tivi yang major, sebutlah TV3 dan RTM2, memberikan ruang yang sangat sedikit untuk partai pembangkang (oposisi) melakukan kampanye. Begitu juga di radio-radio, terlalu didominasi BN. Jalan-jalan di sekitar Bandarbaru Bangi (daerahnya UKM) juga lebih banyak biru – putih (BN) walaupun masih bisa dilihat ada bendera hijau dengan bulatan putih di beberapa sudut jalan (PAS). Sementara kalau di Putrajaya, atribut PAS ataupun DAP dan Keadilan hanya basa-basi saja, sekedar membela diri: “Malaysia berdemokrasi kok, kita memberikan kesempatan yang sama kepada semua partai…”

BN ambisius merebut Kelantan, negeri yang unik di barisan Timur Malaysia, yang sejarahnya menunjukkan bahwa masyarakat negeri tersebut, di mana Cina begitu harmonis dengan Melayu dan di mana Cina menggunakan bahasa Melayu sehari-hari dengan baik; lebih pro kepada PAS bukannya BN. PAS yang memang sudah bertahun-tahun memerintah negeri itu dinilai sukses mempersatukan masyarakat yang berbagai etnik. Nah, ceritanya (dan ini cerita, jangan dirujuk sebagai data valid dan reliable ya) BN berkampanye dengan ‘ngongkosin’ perantau-perantau dari Kelantan untuk balik kampong dan mengundi di Kelantan. Dan yang terjadi tahun ini tetaplah: Ambil duitnya, jangan pilih partainya (satu slogan yang sangat menarik dan juga sempat saya lihat di angkot lebak bulus – ciputat hehe).

Dan ya, teteup pembangkang menang di sana. Di Sungai Long – Kajang, perempuan-perempuan Cina dengan tank top membawa poster PAS pada hari mengundi (oiya, PAS ini adalah partai Islam yang konservatif) dan mereka tentu mendukung pembangkang. India juga dengan kasus Hindraf-nya membuat mereka yang lebih peka dan educated akhirnya mendukung pembangkang. Tidak peduli etnik ataupun agama, selama kepentingan masih sejalan, mari jalan sama-sama. Dan nampaknya benar hipotesis David Seah waktu dia menulis tentang integrasi etnik di Malaysia, “Cuma bisa terjadi kalau mereka menentang kerajaan.”

Bukan cuma di Amerika Serikat saja agaknya demand of change menyerbak mewangi ketika ramai-ramai kaum muda mendukung Obama. Di Malaysia, sebuah negri yang nampaknya (dari luar) aman tentram, rupanya tidak sedikit yang berteriak, “Enough is enough! It’s time to change!” (gagah ya kedengarannya, hmm). Capek dong ya sama status quo melulu.

So, apakah Pak Lah akhirnya mundur? Bagaimana srikandi dari Keluarga Anwar Ibrahim selanjutnya? Iyakah demokrasi mulai masuk ke sini? Dan siapa tahu PRU mendatang pemantau luar negri boleh masuk ke sini, siapa tau tidak ada penipuan suara dengan mendaftarkan nama-nama orang-orang yang sudah meninggal, dan siapa tahu juga tidak ada lagi money politics. Tapi sekurang-kurangnya, 2008 ini cukup membuka mata sebagian petinggi BN aka kerajaan, ga semudah itu menutup saluran pengetahuan masyarakat, apalagi kalau negaranya sudah melek internet, kan. Wajah Anwar memang tidak banyak di TV, tapi di Blogs dan website-website? Hmm, ganteng hahaha.

Seru juga nih, mengingatkan saya pada kisah ‘a part of agents of change’ di 1998 (ingat dengan kisah kasihnya juga, nis? Hehehe)

minggir dong… ^^

Aduuh… kamu jangan duduk di situ dong! Kamu membuat aku gagu nih, dengan mata yang selalu melihat wajahku, mana bisa aku bicara dengan leluasa.
Iya, kamu yang aku maksud. Minggir sedikit bisa ngga duduknya? Kamu membuatku harus menarik nafas panjang sebelum berbicara. Walaupun tidak sedikitpun aku ragu bahwa kita akan kehabisan bahan pembicaraan; tapi ya..plis deh, minggir dikit, dan jangan terus-terusan memandangku begitu, tau!

Mungkin benar-benar ada kupu-kupu dalam perutku. Terbang beredar dalam lambung dan ususku, membuatku tidak bisa duduk tenang sebenarnya dan berharap aktingku cukup baik untuk menutupi kecemasan yang diakibatkan kamu, yang duduk di situ.

Di sebelahku, atau di hadapanku; kamu selalu begitu. Sama saja, tidak ada kemajuan. Membuatku tampak bodoh; padahal kemarin aku begitu meyakinkan berbicara di hadapan empat dosen senior di ruang sidang. Inilah sebabnya aku lebih memilih ym-ing, walau misunderstanding, but living is easy there. Tidak ada salah tingkah karena kamu terus memandangku.

Ough, aku ga suka banget deh begini. Kamu membuatku jadi begitu kekanak-kanakan, malu dengan semua yang berbentuk dan melekat di muka, rambut, tangan, kaos, skirt, sendal, kaki, … adakah yang salah dengan salah satu dari mereka; atau bahkan lebih? Aku jadi takut salah berjalan, salah menyuap tomyam di hadapanku, salah menjepit rambutku, salah … salah… salah… sebab dulu guruku suka memperhatikan hal-hal yang salah, dan mengabaikan hal-hal yang benar. maka kalau kamu memperhatikan aku seperti itu, adakah kamu seperti guruku dahulu? aduuh, apa yang salah ya??

Coba kalau kamu tidak duduk di situ… huuh

Minggiiiir… kamu ngga ngerti ya, bahwa aku baru bisa menulis dengan penuh inspirasi apabila aku bersusah hati. Dan malam ini, kamu yang duduk di situ, membuatku tidak bisa menulis dengan baik, tahu!

Ayo, tanggung jawab! ………………………………………………………………………………………
Ya, harus tanggung jawab dong!………………………………………………………………………..
Pokoknya kamu harus mengembalikan aku lagi seperti semula!…………………………….
…………………………………………………………………………………………………..
Kapan kamu datang lagi dan duduk di situ? Aku tunggu ya……………………………..~^^

Thanks for the delivery service ;))