Junior Forever, we are forever
“Count on me thru thick and thin, our friendships are will never end…” Apa yang membuat saya tersenyum, tertawa, dan menggebu-gebu ingin segera ‘terbang’ ke Jakarta? Teman-teman. Yang lama hilang dan bertemu kembali. Yang lama terpisah kemudian bersatu kembali. Dan yang lama saya abaikan, kini saya cari kembali. Teman yang membuat saya ingat betapa banyak keindahan yang saya miliki, betapa berharganya hidup saya, betapa saya pernah begitu riangnya di masa lalu. Mereka datangkan warna, tawa, dan kehangatan yang mengalir di dalam vena dan arteri saya yang ternyata tengah membeku karena kejenuhan. Mereka datangkan satu kenangan dalam hidup saya, yang membuat saya berkaca-kaca, betapa banyak yang telah kita lewati bersama. Kasar. Brutal. Sinting. Begitulah kami menunjukkan ‘sisterhood’ kami. Tidak ada tegur sapa yang halus membuka percakapan kami di Yahoo Messanger (YM), melainkan “Nyeeet!” (dari kata ‘Monyet’) atau “Coong!” (dari kata ‘Bencong’). Akhirnya, ruang ngobrol maya itu berisi babi kecil, kambing, bebek, monyet, badak, … dan hampir semuanya berbau busuk karena mudahnya kami mengucap ‘taeeee’ (geez, gw ketawa nulis ini, guys) atau berjenis kelamin tidak jelas karena seringnya kami mengucap ‘bencoooong!’. Kami menjadi kumpulan perempuan-perempuan dengan sifat dan gaya bicara yang mungkin tidak pernah kami munculkan di hadapan orang lain. Saya berubah menjadi ‘bacil’ di dalam ruang itu, yang berarti ‘babi kecil’. Sudah belasan tahun, seingat saya, nama itu menjadi nick-name andalan. Konon saya lari seperti babi, dengan langkah kecil-kecil ngebut dari base ke base, dan memang tubuh saya kecil. Jadilah babi kecil. Dan sore ini saya teringat juga latar belakang mengapa Kiki disebut ‘kambing’. Nasibnya selalu menjadi kambing hitam kelakuan kami yang saat itu masih asik jaim… atau takut ya? (yeah, you smoke 5 cigarettes at one time, mbing…thanks for that hahaha). Kami adalah “Junior Forever” sejak 1996. Prinsipnya sebenarnya adalah kami menolak senioritas yang gencet-gencetan, yang pada tahun tersebut kebetulan kami memang masih junior a.k.a cimik-cimik. Dan bebek sore tadi mengusulkan agar kita main satu tim lagi, Jr. Forever melawan Senior-Wanna Be (well, cant say so much about the latter one here =P). Kami bahkan putuskan agar Bungky tetap menjadi coach kami. Tapi ide tersebut tersendat ketika menyadari… satu pemain kami sedang ‘mudik’ ke Belanda, dan dua pemain yang lain tengah hamil besar hahaha. Isn’t it lovely to realize that time passes by and we are still together, guys? Sore tadi kami berkumpul di ruang ngobrol, dan betapa berisiknya ruangan tersebut, hampir dua jam. Mula-mula mau ngobrol-ngobrol rileks, tapi apa daya naluri cela-celaan sudah tak terbendung, tidak ada istilah santai-santai karena terus counter attack cela-celaan. Sampai kambing terteak2… “Woy, satu-satu dong, gila ya!”Agenda tadi sore mula-mula adalah mengatur waktu dan tempat gathering para ‘penghuni peternakan’ ini (monyet diternak, gitu?). Mula-mula rencananya adalah hari minggu tanggal 2. Tetapi si ‘badak berculi satu’ harus mudik ke Medan, maka hari berubah pada sabtu tanggal 1. Tempat? Yang ini sempat bikin saya blur antara ide serius sama asal-asalan. Sebab sampai kesebut ‘sunda kelapa’ (pelabuhan!), laut, dufan (dan ditolak mentah2 oleh saya dan kambing, sebab terlalu beresiko buat ibu hamil yang sok langsing), monas (duh bebek…), PIM, citos, kemang (mulai logis nih)…dan akhirnya… kita sms-smsan deh… lebih efektif begitu, memang.Saya yang online di perpustakaan, selama hampir dua jam itu merasa cukup tersiksa menahan tawa di balik laptop. Nampaknya kambing juga cukup menarik perhatian orang2 di ruangan kantornya. Dan kegilaan berakhir dengan rahang yang pegal.Saya matikan laptop, kemaskan semua barang-barang ke dalam tas. Rasanya saya lakukan lebih cepat daripada biasanya apabila saya online untuk mengerjakan tugas, menulis e-mail, dan rutinitas lainnya. Saya berjalan menuju bustop juga lebih laju, sambil humming lagu secara random. Saya tersenyum pada mahasiswa di bustop yang tidak saya kenal, saya menegur kawan dua kali lebih ramah. Saya mengucapkan terima kasih pada supir bus lebih keras dari biasanya. Saya melihat sore lebih cerah. Dan semua itu terjadi karena saya punya sahabat! “Count on me thru thick and thin, our friendships are will never end. When you are weak I will be strong, helping you to carry on…” Dedicated to Junior Forever di Jakarta, Malaysia, dan Belanda. We are, forever.
~ by nisa felicia faridz on November 24, 2007.
Posted in social relationships
Tags: friendship, junior forever, softball

Leave a Reply