kehormatanku, jangan kamu usik!

Kolom Resonansi di www.republika.co.id edisi kemarin memberikan satu pesan yang berkesan buat saya.

Asro Kamal Rokan, penulis kolom tersebut mengangkat gosip tentang urusan rumah tangga SBY. Zaenal Maarif memang mungkin saja tidak menyebarkan berita bohong, dan kalau gosip tersebut terbukti benar, lagi-lagi kasus ini bisa merembet kepada banyak hal, selain status militer SBY (yang juga akan berimplikasi pada status kepresidenannya), juga tentang disiplin sistem pendidikan akademi militer indonesia yang “kok bisa diterima padahal sudah menikah?”.
terlepas dari kebenaran berita tersebut, menurut saya pribadi apa yang dilakukan Zaenal terlalu kekanak-kanakan (hmm, apa politik memang selalu kekanak-kanakan ya?). pertama, hal tersebut pasti tidak terlepas dari pencopotannya sebagai wakil ketua DPR. sangat tidak dewasa menerima kenyataan dan mengakui kekalahan secara legowo (IF, he consider that his position is ‘the battle’, then he lose, admit it, man). mengaku-aku ’sayangi’ SBY (Media Indonesia, 31/07/07) benar-benar alasan yang ‘ngga banget’ deh pak. ga logis abees.
kedua, setuju dengan Asro, kasus ini sangat buang-buang waktu, menyita perhatian dan energi yang sangat ‘ngga penting banget’. indonesia sudah tertinggal dalam begitu banyak bidang dengan negara lain, dan kasus yang malah saling lapor polisi atas ‘pencemaran nama baik’ dan sebagainya (bahkan sampai ada acara doa bersama antara Zaenal dengan wartawan, ckckckck cape deeh) benar-benar bikin saya tambah malu jadi orang indonesia karena pemimpinnya asik sibuk mengurus masalah-masalah rumah tangga.

soal isi gosipnya, terus terang saya juga tidak tertarik. buat saya, selama belum bisa dikritisi, belum ada bukti yang autentik, hal tersebut cuma jadi gosip yang kebetulan sangat ngga penting. tapi yang menarik adalah memetik pelajaran dari perbuatan Zaenal.
dalam keadaan yang terdesak, yang merasa diinjak haknya, yang merasa didzhalimi, ternyata orang memang bisa bereaksi ke mana-mana, sampai pada melakukan hal yang ‘ngga nyambung’. yang penting buat dia mungkin ‘kepuasan’ melihat orang lain yang menurutnya sudah menghancurkannya, juga ikutan hancur. lalu? ya sudah, sama-sama hancur dengan semangat: “kalo gw ancur, lo juga harus ancur”.
pokoknya mau relevan atau tidak, signifikan atau tidak, yang penting ancurin dulu! tanpa berfikir panjang efek perbuatannya, maka perang pun dia buka. ya, tanpa berfikir bahwa hal tersebut bisa lebih jauh menghinakan dirinya sendiri.

godaan selalu ada pada setiap keadaan. bukan hanya ketika senang dan bahagia, bahkan ketika tertindas dan didzhalimi pun godaan untuk ‘balas dendam’ dan hancur menghancurkan seperti yang dilakukan Zaenal pasti ada. apalagi kalau kita punya ‘kartu truf’ lawan kita, wuiiih… sedap banget tuh.
tapi ya itulah godaan, kalau kita bisa melewatinya, maka ‘kelas’ kita akan bertambah tinggi. dan saya benar-benar memohon pada Allah, supaya dalam keadaan sebagaimanapun, Ia selalu memelihara saya dan menjaga kehormatan saya dari perbuatan-perbuatan yang hina. saya memohon agar hati saya selalu dijaga dari dorongan untuk berbuat jahat, membalas dosa dengan dosa lain, sebab Rasulullah berkata: “Takwa itu ada di sini (Rasulullah menunjuk dadanya dan mengucapkannya tiga kali)”, kemudian hadis tersebut dilanjutkan dengan: : “Sudah cukup kejelekan seseorang yang menghina saudaranya sesama Muslim. Muslim satu dengan yang lain haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya…”
Wow, kehormatan memang segala-galanya bagi umat islam, so dont mess up with my dignity! :)

~ by nisa felicia faridz on November 24, 2007.

Leave a Reply