header image
 

Mitologi Yunani, Thanks Pah…

Ciputat, 1990

 

“Pah, Apollo tuh nama dewa Yunani apa Romawi sih?” saya bertanya kepada laki-laki berumur 45an yang duduk di meja kerjanya. Selalu dengan posisi yang sama, saya berada di sisi sebrangnya, dengan kedua kaki terlipat di atas kursi.

“Emang apa bedanya mitologi Yunani sama Romawi?” balasnya.

“Beda kan?…” saya jadi tidak yakin dengan pertanyaan pertama saya tadi dan kembali ke pertanyaan paling mendasar lagi, bahwa sebenarnya beda atau tidak antara keduanya.

“Beda. Tapi mendingan kamu baca bukunya, Sa. Papah juga ngga yakin.”

Aku masih terus berharap ia memuaskan penasaranku, “kalo Asterix tuh mitologi bukan pah?”

“Bukan.”

“Oh, bukan masuk mitologi Romawi?*” bakat sotoy saya memang terasah dari kecil, rupanya :)

“Bukan lah, mitologi ini yang udah ribuan taun, cerita-cerita tentang terjadinya dunia, dewa-dewa. Mending kamu cari bukunya aja Sa. Papah juga gatau banyak. Nanti kalo kamu udah baca, kamu ceritain aja ke papah…”

 

***

 

Mitologi Yunani. Saya senang sekali membaca tentang dewa-dewa dan dewi-dewi yunani. Apalagi waktu itu saya membeli buku mitologi yunani dengan ilustrasi yang menarik tapi tidak terlalu banyak, sehingga saya masih bisa mengimajinasikan pertempuran para titan yang menghabiskan waktu ribuan tahun, dunia bawah tanahnya Hades, indahnya pulau Delos dengan angsa-angsa yang menari ketika Apollo lahir, dan sebagainya.

Tetapi semakin saya ‘jauh’ dengan ayah saya, semakin saya memandang mitologi Yunani ini sebagai suatu kenangan yang indah bersamanya, “one of my favorite things”.

Bukan karena saya berada di pangkuannya dan mendengarkan kisah Zeus dan si pecemburu Hera dari mulut ayah saya, bukan dan itu memang tidak pernah terjadi. Saya tidak mengenangnya seperti kebanyakan anak-anak yang mengenang orangtuanya melalui dongeng yang mereka dengar dari mulut sang ayah atau ibu mereka. Tetapi percakapan di pagi hari di meja kerjanya itulah yang selalu saya kenang.

Di hadapan anaknya yang berusia hampir 11 tahun pun ayah saya tidak pernah memainkan peranan sebagai “orangtua yang serba tahu”. Sehingga dari dulu tidak pernah saya mengaguminya karena ayah saya adalah sosok yang tahu semuanya, apa-apa yang saya tanya pasti punya jawabannya. Bukan, saya mengaguminya justru karena ia tidak seperti itu. Tetapi karena ia tunjukkan pada saya bahwa dirinya adalah manusia biasa, dan menjadi orangtua tidak mengubahnya menjadi ‘ensiklopedia’.

Sebagai guru kepada anak-anaknya, ia tidak memberikan jawaban, tetapi jalan untuk mencari jawaban. Pakar pedagogi menyebutnya sebagai “active learning” di mana guru adalah fasilitator, atau “independent study” kalau istilah mata kuliah di UKM. Dan efek dari perbuatan ayah saya yang memberiki kail bukan ikannya itu sangat jauh, dan lebih jauh daripada mendapatkan jawaban tentang Apollo dan berbedaan mitologi yunani dengan romawi. Tetapi saya mendapatkan suatu budaya ‘proses’ dalam belajar. Mencari tahu, membaca, menimbang, merangkum dan kemudian mempresentasikannya di hadapan ayah saya, sebagaimana yang ia minta mula-mula: “Nanti kalo kamu udah baca, kamu ceritain aja ke papah…”

Dan ayah saya tidak malu untuk belajar dari saya, anaknya yang saat itu berusia 11 tahun dan diikuti oleh tahun-tahun berikutnya dan topik-topik lainnya.

Sehingga kadang buat saya, ia tidak seperti ayah yang secara ‘struktur organisasi’ berada di atas saya, melainkan seperti teman diskusi di dalam ruang kelas, yang seumuran dan sama-sama haus akan pengetahuan.

 

***

Dan di hari yang lain, saya menghampirinya yang tengah berada di dapur, membuat jus campuran: tomat, pepaya, dan jeruk nipis..minuman wajib untuk anak-anaknya (terutama saya) yang susah makan sayur.

“Pah, sebenernya mitologi yunani mirip sama romawi, cuma nama-nama dewanya aja beda. Misalnya kalo yunani dewa Poseidon, kalo di romawi Neptunus. Kalo yunani Aphrodite, kalo romawi Venus…”

“Trus, kalo Apollo itu siapa?”

“Nih, kalo di sini diceritain kalo dia tuh ….”

 

Dan suasana seperti ini terus terjadi, berakhir pada 18 Juni 2003. Ah, betapa rindunya saya pada ayah/guru/sahabat/teman diskusi/teammate..everything itu.

 May God really take good care of you pa & ma… 

Your Daughter,

Nisa faridz

  

*Sebab Asterix dan penduduk kampung Galia selalu menjadi musuh bebuyutan Romawi. Maka waktu itu saya pikir semua cerita  yang berhubungan sama Romawi boleh-boleh aja dianggap sebagai mitologi romawi :)

~ by nisa felicia faridz on November 24, 2007.

4 Responses to “Mitologi Yunani, Thanks Pah…”

  1. wah sama, saya juga suka banget hal-hal mitologi (ngefans brt) bigest fan, lam knl ya

  2. terharu baca postnya.. T_T
    aku paling demen ma odyssey deh kayanya..

  3. Hay…
    Lam knal y..
    Dari kcil, aQ sk bgt bljr ttg rasi2 bintang. ternyata ad jg crita2 ttg mitologi ky gni. Tp ga ngrti2 amat..
    Biz ga prnah tau mu bc bku ap..
    Tp kmarenan, aQ bc novel Summer Triangle, Jd + pngen tau d ttg crita2 mitologi’y..

  4. aku seneng baca mitologi yunani mulai sd.ceritana emang agak ‘berat’,tapi mengandung makna dan pelajaran yang ‘dalam’ tentang kehidupan.pernah gak ngebayangin kita adalah salah satu tokoh dalam mitologi yunani?!kalo banyak yang bilang cerita dongeng tuh banyak ngejual mimpi.lain ama mitologi yunani.tokoh2na emang khas dongeng,khayal dan penuh misteri,tapi ceritana real,mengandung pesan bahwa manusia tuh selalu menyerah pada nasib.aku paling seneng ama kisah Phelops dan Oinomaus,yang konon jadi cikal bakal lahirna olimpiade

Leave a Reply