header image
 

the boy in the striped pyjamas

Tadi malam mata saya lagi-lagi dibikin berkaca-kaca oleh sebuah buku (dan pastinya perasaan saya dibikin semakin ciut; “duh, orang nulis novel pada bagus-bagus amat sih… kapan dong saya bisa nulis seperti itu).
Pertama-tama tentunya saya mengucapkan terima kasih banyak buat Ms.Kiki, my best curry-puff friend. Buku “The Boy in The Striped Pyjamas” (Anak Lelaki Berpiyama Garis-garis, ditulis oleh John Boyne) adalah hadiah darinya (lengkap dengan catatan kecil untuk saya di halaman pertama: “Life Rocks, Nisa! You rocks! Love, Kiki Suriki.”). Dan memang kelihatannya sebagai the Gemini-ers kami punya persamaan, hobi baca cerita-cerita yang ironis (but I’m not so drama queen as you, mezz hehehe).
Bukan buku yang tebal dan bahasanya pun sederhana sekali. Sehingga tidak perlu berhari-hari untuk menamatkan buku dengan cover yang cukup baik tersebut (terima kasih Gramedia yang menerbitkan edisi Indonesia dengan mementingkan estetika cover buku :)). Isi ceritanya juga bukan sesuatu yang kompleks, walaupun setting dan periode kejadian tersebut berada pada kondisi sosial politik yang kompleks (it’s complicated, kalau kata friendster..lengkap dengan TM).
Tentang seorang anak laki-laki normal, Bruno, berumur sembilan tahun yang secara natural bete sama kelakuan kakak perempuannya yang mulai puber, dan cinta dan bangga sekali dengan ayahnya. Kebanggaan pada ayahnya yang seorang komandan penting, yang gagah dengan seragam berlogo swastika (dan tentunya anak ini tidak pernah tahu apa makna logo tersebut). Seorang ayah yang bekerja sepenuh jiwa raga demi puncak karier militernya.
Jiwa petualang Bruno membawanya kepada persahabatan dengan seorang anak lelaki sebayanya, Shmuel, yang lahir pada hari bulan dan tahun yang sama dengannya, mempunyai ukuran tubuh yang sama namun lebih kurus dari Bruno, dan bedanya lagi, anak ini selalu mengenakan ‘piyama’ garis-garis (yang sebenarnya adalah seragam untuk kaum yahudi yang berada di kamp Aucshwitz).
Bab demi bab menceritakan kehidupan keluarga sang komandan dan juga persahabatan dari sudut pandang anak sembilan tahun yang naïf dan … kadang menyebalkan. Misalnya ketika Bruno terus-terusan mengeluh tidak adil karena Shmuel punya banyak kawan yang tinggal bersamanya sementara dirinya harus tinggal bersama kakak perempuannya yang sinis dan menyebalkan. Seandainya Bruno mengerti… saya sendiri tidak yakin, apakah seharusnya anak sembilan tahun seperti mereka mengerti apa yang terjadi di sana saat itu?
Tidak seperti persahabatan Bruno sebelumnya dengan kawan-kawannya di Berlin, selama setahun yang mereka dapat lakukan hanyalah duduk bercakap-cakap di bawah pohon dengan sebaris pagar kawat tinggi memisahkan mereka. Sampai suatu ketika naluri petualangnya membawa Bruno lebih jauh, menerobos pagar yang memisahkan dirinya (yang adalah ras unggulan, menurut Der Fuhrer) dengan kelompok tawanan yahudi. Usaha itu disempurnakan oleh piyama garis-garis yang dibawakan Shmuel untuk dikenakan Bruno demi penyamarannya di ‘balik pagar’. Dan ZAP! Jadilah ia bagian dari kaum ‘terhina’ itu.
“… sulit sekali membedakan mereka berdua. Rasanya seakan … mereka semua sebenarnya sama …” begitu kata Shmuel (Hmm, kenapa semakin dewasa kita justru makin jauh dari kebijaksanaan anak-anak ya?).
Pheew… Saya menghela nafas dalam-dalam ketika Bruno yang berada di barisan ‘piyama garis-garis’, diantara tembakan-tembakan dan teriakan tentara-tentara nazi, berharap agar ayahnya segera datang dan menghalau anak buah-anak buah ayahnya tersebut yang tidak berhenti-berhenti menyakiti mereka. Kabar terakhir yang diceritakan tentang Bruno adalah ia, Shmuel dan ratusan orang berpiyama garis-garis lainnya masuk ke dalam ‘ruangan panjang’ yang gelap dan tak berudara, dan bukan untuk berteduh dari hujan.

Akhir cerita ditutup dengan tangisan sang ayah di tepi pagar ketika ia melihat baju Bruno dan menyadari ada celah di bawah pagar yang bisa diterobos anak sebesar Bruno. Sejak itu ia merasa tidak ada yang penting lagi dengan kariernya…

Saya teringat satu lagunya Cranberries yang berjudul “War Child”. Dalam lagu itu Dolores bilang: selalu anak-anak yang menjadi korban perang, tidak peduli siapa yang menang dan siapa yang kalah, anak-anaklah yang selalu menjadi korban kepentingan politik dan teritori.

~ by nisa felicia faridz on November 24, 2007.

Leave a Reply