ya, saya adalah nisa si indon itu
Ya, saya adalah nisa si indon itu.
Saya adalah pelajar program siswazah (pascasarjana) di fakulti pendidikan UKM. ya, saya yang tidak terusik walaupun tuntutan menulis dalam bahasa melayu cukup mengganggu saya, karena bahasa kita hanya mirip, tidak sama, dan bisa menyesatkan. kalau kamu pikir boleh = bisa, itu keliru! kalau kamu berfikir bercinta = memadu kasih..salah besar, lah jiran!
jadi, ternyata kamu belum benar-benar kenal saya si indon ini kan?
Ya, saya adalah nisa si indon itu.
Sekitar setahun yang lalu dosen saya di fakulti pendidikan UKM menawarkan saya pekerjaan sebagai felo (bagian dari pengurus asrama milik kampus) dan ‘mengasuh’ adik-adik pelajar S1, memberi advis untuk program-program yang mereka jalankan, dan membantu mereka berhubungan dengan pihak manajemen asrama. dosen saya juga menawarkan menjadi research assistant (RA), tapi sayangnya saat ini saya tidak bisa memenuhi permintaan tersebut. ah, tidak, saya tidak berbangga-bangga, sebab sudah terlalu banyak senior-senior saya, yang indon juga, menjadi RA bahkan menjadi terkenal di fakulti karena kemahiran mereka melakukan analisis statistik.
jadi, ternyata kamu tidak betul-betul tahu bahwa kami pekerja gigih dan pintar, toh?
Ya, saya adalah nisa si indon itu.
Bulan Mei yang lalu saya bersama tim softball UKM, sebagai senior di tim (karena jauh lebih tua aja sih, bukan karena kapasitas juga hehe) saya tidak peduli bahwa saya satu-satunya indon di tim. saya memberi ide, saya kritis, saya memberi kontribusi. walaupun minoritas, saya tidak pernah merasa terdesak. bahkan seorang pelatih nasional mengajak saya untuk main di timnya. saya katakan itu tidak mungkin, karena warga negara saya adalah indonesia.
di lapangan, di kelas, dan ketika bekerja, saya tidak merasa disempitkan oleh kebangsaan saya.
jadi, salah sangka kalau kamu menganggap kami bisa digencet karena jumlahmu di sana lebih banyak.
Ya, saya adalah nisa si indon itu.
Teman saya kamu grebek rumahnya dan kamu menuduhnya sebagai imigran gelap. kawan-kawan saya yang bekerja, yang saya panggil dengan ibu dan bapak dengan penghargaan, mereka adalah orang-orang yang kamu cambuk. ya, mereka yang kamu sebut ‘orang kerja dari indon’ itu adalah saudara setanah air saya.
kamu tahu bedanya indon ini dengan kamu? kami tidak perlu bertanya, suku apa yang dianiaya itu, apa agamanya, adakah dia jawa, medan, islam, hindu,…
jadi, sedikit berbeda ya dengan kamu yang penting banget mengidentifikasikan warga negara kamu dengan melayu, india, cina. bahkan kamu yang mayoritas, tidak mau meleburkan diri dalam politik. partai kamu yang besar itu, maunya hanya diisi satu suku saja.
beda kan, kita?
ya, saya dan indon2 di malaysia, tidak senyaman yang kamu kira, walaupun saya tidak menggebargemborkan perpaduan dan kamu selalu menjadikan kerusuhan 1998 di indon sebagai contoh buruk yang jangan ditiru.
ternyata, kamu tidak menyangka bahwa kami lebih erat persaudaraannya, walaupun sebagai keluarga yang lebih besar dari kamu dan suku serta bahasa yang lebih beragam, kan?
Ya, saya adalah nisa si indon itu.
yang tidak dibikin nyaman dengan perpustakaanmu yang lengkap dan sejuk, dengan free wifi mu, dengan sistem universitimu yang memang saya akui lebih terorganisir dengan baik.
terima kasih karena peluang peluang yang diberikan kepada saya sebagai pelajar di malaysia,
memang ada satu dua stigma yang tidak nyaman di hati, tetapi saya tidak mau sensitif mengangkatnya dan menganggap sebagai diskriminasi.
akan tapi saya dan kawan-kawan sudah bayar uang kuliah tiap semester, perpanjang visa pelajar setiap tahun, dan meramaikan perekonomian di tanah malaysia. kenapa kamu minta kami membayarnya dengan lagu rakyat dan batik kami? tidakkah terlalu mahal bayaran tersebut?
Ya, saya adalah nisa si indon itu.
di tanahmu yang menyenangkan, saya belajar mencintai bangsa saya. bangsa yang besar, bangsa pembangunannya belum merata, bangsa yang memang masih dilanda busung lapar dan tuna aksara. tapi, kamu menduga tidak, walau belum sekenyang kamu, kami bisa marah kalau hak asasi kami diusik? ternyata jelek-jelek kami punya harga diri, kan.
kami bangsa yang kamu sebut dengan indon, terlalu melelahkankah menyebut kata ‘indonesia’ buatmu yang kekenyangan itu? kamu anggap kami bangsa budak karena banyak pekerja yang melakukan kerja kasar di negrimu.
mudah-mudahan kamu sekarang lebih membuka mata, ternyata sebagai saudara serumpun, kita tidak terlalu mirip, bukan?

ah kamu nisa
sensitip banget sih
nyante aja kaliiiiiiii
nice, nisa.
saya capek ngeliat semua perkelahian di internet antara indon-malingsia.
artikel ini paling beda dari apa yang udah saya liat sebelumnya..
keep writing..
thanks nemo..
saya yakin tidak perlu menghujat untuk mengekspresikan protes.
thanks to jazz yang mengajarkan saya demikian