ode to my past

Do you remember, Nisa… 

Waktu pertandingan softball Georgeus Cup di Bandung di 2004;

Setiap pagi Rebels makan bubur ayam sampai mamang-nya asyik “terserah” aja sama pesanan tiap orang yang berbeda: ayamnya pakai tulang/ sambelnya banyak/ ngga pakai bawang goreng/ cakwenya tambah/ kerupuknya lebihin/ ngga pakai kacang…

Dan Bulbul salah kostum dalam dua hari berturut-turut.

“Gue ngga’ cocok sama umpire-nya,” kata inem gaya banget.

Setiap pagi – siang – sore – malam tidak ada hari yang terlewat tanpa ketawa-ketawa. Saling mentertawakan, tepatnya.

Dan selalu diakhiri dengan apresiasi Bung Hasyim: “Thank you, ya!”  

Do you remember, Nisa… 

Waktu SMU duduk-duduk di bawah pohon setiap pagi, di depan kelas 3 IPA 2 bareng Citra dan Winda, membahas kisah cinta ironi masing-masing. Sampai pernah juga berantem sama Citra, yang menimbulkan salah paham di kalangan teman-teman karena kita dituduh berantem gara-gara rebutan cowok, halah-halah…

Dan Winda selalu ngga nyambung tapi kelihatan banget berusaha supaya ngga terlihat terlalu bolot, tetapi selalu aja terlambat usahanya sebab dia seringkali malah terlanjur bolot =)

Dan perpisahan kelas 2.11 jalan-jalan ke Bandung, dan duduk-duduk di Dago Tea House di malam yang romantis sekali, ketawa-ketawa menyaksikan parodi cowok-cowok tentang satu tahun di kelas yang sama.Tentang prom nite, dan cerita ini selalu berujung kepada kebanggaan diri Dizz, band yang mengaku paling eksis di kalangan 6/97.   

Do you remember, Nisa… 

Di tahun 2003, setelah genap lima tahun melepaskan putih-abu abu, bersama kawan-kawan kita mengadakan reuni “Kembali ke Sekolah”. Rapat demi rapat yang membuat nisa semakin sayang dengan kawan-kawan lama. Malam sebelum hari H kita menginap di salah satu ruang kelas SMU 6, dan esoknya setelah acara selesai, baru nisa sadar satu hari satu malam nisa tidak makan, maka penutupan acara jam 7 itu menjadi bayangan yang penuh kunang-kunang. Namun sebelum terjatuh, seorang laki-laki dari masa SMU dulu menopang nisa… dan semua imaji kembali seperti masa sekolah…satu hari kembali ke sekolah, hanya satu hari itu saja. Begitu menyenangkannya.  

Do you remember, Nisa… 

Ketika SD nisa tidak dianjurkan untuk duduk di bangku depan, walaupun nisa suka berhadapan langsung dengan guru dan papan hitam yang memenuhi dinding. Karena nisa duduknya suka ngangkang dan sepertinya tidak bisa diubah, maka akhirnya nisa dianjurkan untuk duduk di belakang.

Ketika SMP nisa patah hati untuk yang pertama kalinya, ketika laki-laki yang membuat nisa semangat pergi ke sekolah curhat tentang gadis pujaannya, bahkan meminta nisa untuk menuliskan surat cinta untuk gadis tersebut. Nisa yang lugu dalam urusan percintaan memang tidak pernah tahu bagaimana mengekspresikan isi hatinya.

Dan akhir masa SMP, nisa sempat dipanggil kepala sekolah karena membawa bat softball dengan alasan proteksi diri dari tawuran. Dan akhirnya masa coret-coret baju sekolah masih terpajang dalam album foto, dengan senyum lebar, lompatan, dan keceriaan yang lumayan berlebih.  

Do you remember, Nisa… 

Satu hari setelah sidang skripsi, nisa bersama Conkey si Honda bebek ’70 melintasi selatan jogjakarta. Mula-mula jalurnya sangat familiar sebab beberapa bulan lintasan tersebut selalui dilalui kalau ke desa Pundong, Bantul untuk kepentingan KKN. Namun nisa dan Conkey tidak belok kiri, nisa terus lurus dan lurus sampai jembatan, sampai “Selamat datang di Parang Tritis”. Kasihan Conkey, badannya mulai memanas. Akhirnya nisa berhenti dan duduk di tepi pantai, membiarkan conkey dikipasi angin laut. Dan nisa, merasakan dinginnya patah hati yang kesekian kalinya. Sendiri, jauh dari siapa-siapa, dan sempat cemas, mampu ngga ya conkey kembali berjalan lebih dari 42 km untuk kembali ke kos-kosan?  

Do you remember, Nisa… 

Bersama chupa (motor pertamaku, si yamaha force one), mas ian, nando, dan mbak yani, kita bermotor ke Bromo. Kita mampir di grojogan sewu, lanjut sampai tengah malam tiba di Malang dalam keadaan motor yang cukup malang juga. Esok paginya kita keliling kota Apel, ke Batu, dan lanjut ke Bromo. Dinginnya membuat nisa terus bernyanyi dan berteriak-teriak sampai mas nando yang ngeboncengin ketawa-ketawa mendengarnya. Di salah satu tanjakan nisa harus dorong Chupa supaya bisa naik, dan di padang pasirnya kita jatuh dari motor…   

Do you remember, Nisa… 

Di 2002 ayu riszti membacakan narasi di hadapan saksi akad nikah papa dan ibu aty. Mereka yang berada di sana seperti tersulap, air menitik hampir dari setiap pasang mata. Haru, dan akupun begitu. Tidak kuduga, apa yang kutuliskan di lembaran kertas untuk dibacakan kakak sulungku, bisa mendapatkan apresiasi yang indah.   

Do you remember, Nisa… 

Pada saat berdiri di garis start, di terik Surabaya 1990, mata nisa selalu mengarah pada belokan pertama yang di depan mata. Nisa merancang di titik mana maneuver harus mulai dilakukan. Bagaimana berpacu dengan waktu, melawan panas melawan lelah dan akhirnya melewati garis finish dengan waktu tercepat. Dan nisa berfoto dengan mama dengan empat medali emas kejurnas terkalungi.   

Do you remember, Nisa…

Do you?

Do you, really? 

Pada saat tahun berganti, dan hari kemarin terasa begitu menyesakkan, nisa memang harus mengingat. Ingat pada segala hal yang pernah nisa lewati, nisa alami, dan nisa nikmati.Betapa banyak kebahagiaan yang nisa dapat, yang mungkin tidak nampak di 2007. Maka nisa harus mengingat lebih kuat, nisa harus ingat detil demi detil yang benar-benar terjadi.

Pada kejuaraan softball antar universiti di Malaysia, pada saat bersama Sam dari Spomax, pada saat ke Selasar Sunaryo bersama Indri, Eric, dan Tom, pada hunting sepeda di Malaysia – Singapore, pada art dan jazz di Singapore, pada piknik The Faridzs di Sentosa Island, Zoo, dan Orchard Rd., dan pada keindahan Desember sebagai puncaknya. 

Kalaupun begitu sulitnya menjadikan kenangan tersebut indah karena tertutup luka duka, maka ingatlah lebih keras ke tahun-tahun sebelumnya, bahkan belasan tahun sebelumnya. Begitu banyak kenangan manis yang nisa pernah lalui, yang seharusnya menjadikan nisa begitu kaya dan bermakna.

Kalau masih lagi susah mengingat semuanya, maka hampirilah kawan-kawan. Yang bisa mengingatkan betapa diri nisa memiliki begitu banyak potensi positif, potensi menuju kebahagiaan. Kawan adalah warisan masa lampau yang terus membawa berkah hingga hari ini, dan untuk masa depan.    

Dedicated to my friends in Jakarta;

Thanks for the wonderful December 2007         

~ by nisa felicia faridz on January 8, 2008.

One Response to “ode to my past”

  1. Beautiful, and inspiring. Menggetarkan.

Leave a Reply