wind of change bertiup di malaysia…kah?

Apakah banyak yang memprediksi kalau PRU (Pilihanraya Umum) ke-12 tahun 2008 ini akan mengukir sejarah baru negri jiran yang sejahtera dan stabil ini?

Terus terang saya tidak tahu, karena sebelum masyarakat ‘mengundi’ (mencoblos), saya malah memperhatikan bagaimana media dikuasai oleh BN (Barisan Nasional), partai koalisi yang pro-kerajaan (gabungan antara UMNO, MIC, dan MCA). Saluran-saluran tivi yang major, sebutlah TV3 dan RTM2, memberikan ruang yang sangat sedikit untuk partai pembangkang (oposisi) melakukan kampanye. Begitu juga di radio-radio, terlalu didominasi BN. Jalan-jalan di sekitar Bandarbaru Bangi (daerahnya UKM) juga lebih banyak biru – putih (BN) walaupun masih bisa dilihat ada bendera hijau dengan bulatan putih di beberapa sudut jalan (PAS). Sementara kalau di Putrajaya, atribut PAS ataupun DAP dan Keadilan hanya basa-basi saja, sekedar membela diri: “Malaysia berdemokrasi kok, kita memberikan kesempatan yang sama kepada semua partai…”

BN ambisius merebut Kelantan, negeri yang unik di barisan Timur Malaysia, yang sejarahnya menunjukkan bahwa masyarakat negeri tersebut, di mana Cina begitu harmonis dengan Melayu dan di mana Cina menggunakan bahasa Melayu sehari-hari dengan baik; lebih pro kepada PAS bukannya BN. PAS yang memang sudah bertahun-tahun memerintah negeri itu dinilai sukses mempersatukan masyarakat yang berbagai etnik. Nah, ceritanya (dan ini cerita, jangan dirujuk sebagai data valid dan reliable ya) BN berkampanye dengan ‘ngongkosin’ perantau-perantau dari Kelantan untuk balik kampong dan mengundi di Kelantan. Dan yang terjadi tahun ini tetaplah: Ambil duitnya, jangan pilih partainya (satu slogan yang sangat menarik dan juga sempat saya lihat di angkot lebak bulus – ciputat hehe).

Dan ya, teteup pembangkang menang di sana. Di Sungai Long – Kajang, perempuan-perempuan Cina dengan tank top membawa poster PAS pada hari mengundi (oiya, PAS ini adalah partai Islam yang konservatif) dan mereka tentu mendukung pembangkang. India juga dengan kasus Hindraf-nya membuat mereka yang lebih peka dan educated akhirnya mendukung pembangkang. Tidak peduli etnik ataupun agama, selama kepentingan masih sejalan, mari jalan sama-sama. Dan nampaknya benar hipotesis David Seah waktu dia menulis tentang integrasi etnik di Malaysia, “Cuma bisa terjadi kalau mereka menentang kerajaan.”

Bukan cuma di Amerika Serikat saja agaknya demand of change menyerbak mewangi ketika ramai-ramai kaum muda mendukung Obama. Di Malaysia, sebuah negri yang nampaknya (dari luar) aman tentram, rupanya tidak sedikit yang berteriak, “Enough is enough! It’s time to change!” (gagah ya kedengarannya, hmm). Capek dong ya sama status quo melulu.

So, apakah Pak Lah akhirnya mundur? Bagaimana srikandi dari Keluarga Anwar Ibrahim selanjutnya? Iyakah demokrasi mulai masuk ke sini? Dan siapa tahu PRU mendatang pemantau luar negri boleh masuk ke sini, siapa tau tidak ada penipuan suara dengan mendaftarkan nama-nama orang-orang yang sudah meninggal, dan siapa tahu juga tidak ada lagi money politics. Tapi sekurang-kurangnya, 2008 ini cukup membuka mata sebagian petinggi BN aka kerajaan, ga semudah itu menutup saluran pengetahuan masyarakat, apalagi kalau negaranya sudah melek internet, kan. Wajah Anwar memang tidak banyak di TV, tapi di Blogs dan website-website? Hmm, ganteng hahaha.

Seru juga nih, mengingatkan saya pada kisah ‘a part of agents of change’ di 1998 (ingat dengan kisah kasihnya juga, nis? Hehehe)

~ by nisa felicia faridz on March 13, 2008.

Leave a Reply