forever young
Sambil mendengarkan “Hasta Siempre Che Guevara”, saya teringat salah satu penggalan kisah dari Khalifah Umar adalah ketika beliau berpidato, sebagai politikus, di hadapan rakyat yang notabene adalah kaum muslimin. Usai beliau berpidato, seorang pemuda berdiri dan mengacungkan pedangnya seraya berteriak: “Wahai Umar, apabila kami melihat engkau menyimpan, maka kami akan meluruskanmu dengan pedang ini!” Dan sang Khalifahpun bersyukur, secara spontan beliau mengucap hamdallah karena masih ada manusia, dan ia adalah pemuda, yang berani mengungkapkan kebenaran.
Ingatan ini membawa saya kepada memori yang lain, pada suatu malam di beranda depan rumah saya, diantara banyak malam-malam yang saya alami bersama mereka, sekitar lima tahun setelah putih – abu abu tidak kami kenakan lagi. Mungkin karena dipengaruhi kopi instan dan mie instan, maka sering kami menjadi pejuang politik instan juga^^. Saat itu kami yang baru menginjak dua puluhan merasa semakin miskin, karena ketika tidak lagi berlabel ‘mahasiswa’, kami mulai tersentuh kepada dunia nyata yang begitu demanding, yang menuntut kami untuk pelan-pelan melepaskan kekayaan kami yang paling kami cintai, idealisme.
Beberapa orang memetik hikmah dari penggalan kisah Khalifah Umar dengan mengatakan: “Masih muda tetapi berani menantang Khalifah. Hebat betul ia!” Tetapi saya justru mengatakan sebaliknya: “Sebab ia masih muda maka ia dapat menantang beliau.” Diikuti dengan sikap positif kawan saya: “Ya doain aja sampai tua orang-orang yang seperkasa pemuda itu bisa tetap perkasa, bisa terus konsisten menjaga nurani bangsa, tidak merasa didesak oleh kemiskinan, keinginan, dan kekuasaan.” Dan biasanya pembicaraan demikian; yang dengan iringan lagu-lagu balada seputar Iwan Fals, Ebiet, atau Redemption Song; akan membawa hati saya yang konon katanya agak alot (kalau tidak mau dibilang keras) ini kepada satu tekad: “Saya tidak akan melepaskan idealisme dan mimpi-mimpi saya, sampai tua, sampai akhir hayat.”
Dan saya yakin setiap manusia hidup dalam pilihan. Selalu ada pilihan. Dan selalu ada konsekuensi di balik pilihan mereka. Begitu pula dengan saya. PhD di Malaysia atau tidak; pulang ke Jakarta atau tidak; main softball terus atau berhenti; menyerah atau terus; menjadi oposisi atau pendukung; menjadi Rahmatan Lil Alamin atau hedonis; … menjadi pemuda sepanjang hayat atau tunduk pada usia.
La haula wala quwwata illa billah…

Pilihan? Ya, dan setiap orang punya nilai-nilai sendiri dalam memilih dan melaksanakan pilihannya, Sa
so, what is your choice, war…heheehehehehhehehe