maafkan aku, nisa
*terinspirasi dari The Kite Runner (dari arsip 2007)
Penebusan dosa. Semua orang yang menyadari kesalahannya, dosa yang tersimpan dalam dadanya, pasti merasa merana dan terdorong untuk menebusnya.
Baba, ayah si Amir dalam The Kite Runner berusaha untuk menebus kesalahan besar di masa lalunya dengan mendirikan panti asuhan, mengasihi fakir miskin, dan selalu menolong orang lain dengan gagahnya. Saya yakin, apa yang dilakukan Baba tak ubahnya dengan apa yang dilakukan banyak orang di dunia, di mana rasa bersalah mendorong orang untuk berbuat kebaikan.
Tidak jarang pula orang yang merasa menanggung dosa besar menjadi insomnia seperti Amir-jan, berusaha mati-matian melupakan masa lalunya, menenggelamkan atau sekurang-kurangnya mengalirkan dosa itu di atas ’sungai besar’, istilahnya untuk Amerika. Namun semakin keras ia berusaha, semakin dekat pula dosa tersebut menghantuinya.
Namun, Rahim Khan yang bijak tidak saja berujar pada Amir, tetapi pada saya yang juga ikut tersinggung membacanya: “… Maafkanlah aku kalau kau ingin memaafkanku, Amir. Namun, yang paling utama, maafkanlah dirimu…”
Nasihat senada juga pernah saya terima dari Mitch Albom dalam Tuesdays With Morrie yang bilang: “forgive yourself before you die, then forgive others.”
Menyadari dosa yang saya buat, yang berbuntut panjang, saya merasa seperti Amir yang merasa telah membunuh Hassan yang sebenarnya mati di tangan Taliban. Saya ingin seseorang menghukum saya secara sungguh-sungguh. saya bisa mengerti mengapa Amir berharap dibalas, dilempar balik dengan buah delima oleh Hassan. “Hukumlah aku, balaslah dendammu padaku, supaya kita impas. Supaya tak perlu lagi aku menanggung beban dosa ini. Supaya aku bisa hidup dengan tenang dan tidur dengan nyenyak!”
Amir yang telah menebus rasa bersalahnya dengan menyelamatkan Sohrab membesarkan hati saya, memberikan satu harapan, menunggu tiba saatnya bagi saya untuk menebus dosa dan kepedihan yang saya torehkan pada dia, dan mereka.
Rahim Khan, Rahim Khan, kalaulah memang yang paling utama adalah memaafkan diriku sendiri, itukah sebabnya ia menjadi perkara yang paling susah untuk saya lakukan? Ajari saya, Rahim Khan…

Leave a Reply