nisa sepaturoda
“kamu tau kenapa dari kalian (me and sisers) masih kecil, papa selalu support olahraga?” begitu kata papa di tahun 2002.
well, kalau jawabannya “supaya langsing” rasanya ga sesuai…or at least, ga sukses hehehehe…
dari umur empat tahun aku, setiap sabtu sore dan minggu pagi selalu ‘berjemur’ di silang monas, dengan seragam kuning-kuning, berada di atas sepaturoda. jatuh, bangun lagi, selalu berusaha lebih cepat dan lebih cepat lagi. lebih terampil ketikan harus belok kanan dan kiri, menyilangkan kaki, meliuk-liuk ketika slalom, melompat di atas papan jumping,…
there’s nothing more important than preparation for the next competition.
mama selalu sedia glukosa, redoxon, dan susu milo. kami bersihkan bearing dan menyemir sepatu. papa kadang bantu kami untuk bermeditasi (hmm…anak-anaknya memang seringkali perlu ‘menenangkan diri’). tidak ada santai-santai bangun siang di minggu pagi. karena minggu pagi adalah moment yang terlalu indah untuk dilewati, kami berkeliling sampai bunderan HI dan ratu plaza.
dan eventually, sepaturoda adalah bagian hidup nisa kecil dan remaja. bukan sekedar suka, bukan sekedar supaya sehat, tetapi seperti kata papa: “supaya kalian kuat”.
terlalu banyak kekuatan yang diperlukan untuk menjadi seorang yang berkarier di sepaturoda. dan rasanya, walaupun sampai akhirnya aku menamatkan karier tanpa benar-benar berada di puncak, tapi aku merasa begitu banyak kekuatan yang terlatih, yang sangat sangat berguna di hari dan hidup setelahnya.
bukan kekuatan fisik sehingga tidak mudah sakit, bukan kekuatan fisik sehingga dapat jalan dan berlari lebih jauh, lebih cepat, tetapi kekuatan untuk melatih pikiran, melatih mental untuk menerima kekalahan dan kemenangan dengan sportif. kekuatan untuk dapat mengenali diri, kelemahan dan kelebihan.
secara tidak sadar, sejak kecil aku berada di sekitar orang-orang yang melatih untuk selalu melakukan refleksi diri… apabila aku kalah, aku selalu diajarkan untuk berpikir, “kalau begitu besok kita harus latihan fokus ke…” atau “liat kan, kalau begitu strategi yang kamu pakai, maka kamu…”
saya juga belajar bahwa tidak ada yang bisa dicapai dengan mudah. bahwa segala hal harus diperjuangkan, ada yang harus dikorbankan, dan seringkali untuk menang, usaha kita harus berlipat ganda daripada yang lain. latihan lebih keras, makan lebih disiplin, tidur lebih berkualitas, dan urusan sekolah lebih kritis
aku tidak pernah mau mengorbankan sekolah, maka sejak kelas lima SD, begitu pulang sekolah jam 1, bikin PR di sekolah sambil tunggu mama jemput, dan pergi ke senayan atau monas untuk seleksi tim DKI, pulang jam 8 malam, dan tidur. sehingga PR tidak lagi pekerjaan rumah, tetapi pekerjaan setelah bel pulang sekolah. hasilnya? tidak ada alasan untuk menyalahkan kegiatan luar sekolah (statement ini untuk para ortu yang suka paranoid sama olahraga dan kegiatan luar sekolah), karena kalau mau usaha, tidak mungkin ada yang sia-sia.
papa bilang dengan olahraga kita jadi kuat.
kuat untuk bertahan.
begitu kita sekali dua kali jadi juara, sebenarnya begitu banyak beban yang harus kita pikul. dari enam SD aku sudah belajar apa artinya “pengharapan orang atas diri kita” dan hopefully i didn’t do it wrong.
menjadi juara memerlukan kekuatan ekstra. kekuatan untuk menerima kekalahan, adalah hal yang paling utama, yang sering luput dalam “kurikulum sang juara”.
kaki kram, sepatu kekecilan, napas sesak, jalan jelek, adalah alasan-alasan yang seringkali terlalu mudah diucapkan ketika seorang jawara kalah dalam satu pertandingan. terlalu mudah, sehingga ia kehilangan kesempatan untuk belajar untuk menghadapi kekalahan secara elegant. apa salahnya kalau kita mengakui keunggulan seseorang melebihi kita? susahkah? memang susah, tapi kalau bisa melakukannya, itu sangat terhormat.
menjadi kuat di sepaturoda membuatku berkekuatan untuk bergerak secara mandiri, dan itu sangat berarti pada hidup sekarang ini.
ketika bertanding di lapangan, aku seringkali tidak punya ‘bala bantuan’ yang siap mendorong atau menarik, menghalau musuh, sehingga aku bisa finish nomor satu. almost never that kind of winning ever happen to me.
itulah resiko kalau menjadi ’sprinter’, lawan atau kawan tidak ada bedanya, mereka berada di lintasan yang berbeda, atau waktu start yang berbeda. the road is yours. you start and finish it yourself. you win alone and yet your lose is caused by yourself also. your supporters are there beside the road, they support you and pray all the way, dan lawan-lawan memperhatikan, dan mungkin mengharapkan yang sebaliknya. but still, kamulah yang berada di dalam lintasan itu, one chance, one shot.
tidakkah diperlukan kekuatan untuk berada di situasi yang demikian? kekuatan untuk memilih apa yang sepatutnya dipikirkan dan apa yang sepatutnya dihalau? suara apa yang perlu didengar dan suara apa yang harus diabaikan? apa yang akan dilakukan saat berbelok? apa yang dilakukan pada 50 meter terakhir? akhirnya kekuatan fikiran melebihi pentingnya kekuatan fisik dalam kondisi seperti itu.
sebenarnya, pada 2002 itu papa menjelaskan kepadaku alasan mengapa ia mendorong kami bersepaturoda:
supaya anak-anak papa kuat dalam hidup! tanpa kekuatan, kamu tidak akan berani mengambil pilihan.
Gee, thanks old pal!

Leave a Reply