MILONGA PARA UN FUSILADO – Ballad of The Fallen

•February 6, 2008 • Leave a Comment

Don’t ask me who I am

Or if you knew me

The dreams that I had

Will grow even though I’m mo longer here.

I’m not alive, but my life continues

In that which goes dreaming

Others who continue the light

Will grow new roses

In the name of all these things

You’ll find my name. 

Don’t remember my face

For it was my face of war

While I was in my land

It was necessary to hide my real face

In the sky where I go

You’ll se what my true face was like

Few people heard me laugh

But when you are present in the woods

You’ll find before you my ignored smile. 

Each day our love increased for our compañeros

who have died. 

We know they don’t find peace in their rest

For they live in the agitations of glory. 

Cry with us all those who feel it

Suffer with us all those who loved them

Fall to the earth on your knees 

Tremble with fear

All those who on that fateful day … assisted in

The murder. 

COMPAÑEROS FALLEN IN THE STRUGGLE – EVER ONWARD TO VICTORY! 

Don’t ask me my age

I have the years of all

In many ways I chose

To be older than my age

In truth, my years

Are the shots being fired

I’m born in each new round

And although my body has died

My true age is the age

Of the child I have liberated.

Spoken:ONE NEVER FORGETS THE COLOR OF BLOOD – THE DEAD WILL BE AVENGED! 

Don’t go looking for my grave

For you wont find it.

My hands are those that go

In others’s hands that are firing

My voice is that which is shouting

My dream, follows

And know that I only die

If you give up

For those who die in combat

Live on in every compañero

For those who die in combatLive on in every … compañero. 

Ë 

This poem, translated from Spanish, was found on the body of a student who was killed when the United States-backed National Guard of El Salvador massacred a sit-in at the university in San Salvador.

Thanks to David who sent me wonderful past of my days that i had, remind me of the potential i posses, and how great a music (jazz) can be. and beyond the music, education, sociology of sports, art, relationship-things, cultural, poverty and world disaster, … there is the friendship that matters. cheers!  

for a good friend of mine, hang on!

•February 5, 2008 • Leave a Comment

In yahoo messenger this afternoon, I met my good friend.

He seemed so blue and depressed. He said that life becomes so meaningless and nothing good came to his life. It occurred to him that maybe death would be good for he could meet his belated lovely mom, then. 

I sighed deeply reading the sentence before my eyes. “I know how it feel. I could understand you. But, I don’t think your mom would like to meet you that way, you know…” 

I really did. I knew how he felt. And I just couldn’t believe what I’ve been through for so long and how my experiences could be my strength to help others, my good friend. I mean, when I was there, in the situation where everything went wrong and how one mistake led to another, death smelled sweet and sounded nice too. That was the easiest way of it all for I didn’t have to live my life in doom and gloom anymore. So that I didn’t have to carry all the burden of mistakes I made. That was heavy, way too heavy.

Therefore my dear friend, it wasn’t a lip service at all, I did really know how you feel. All I could say here is that sometimes you have to make peace with yourself. You are not perfect, and people know that. It’s okay to be gloomy sometimes, it’s okay to take a rest for a while, and it’s okay to be angry for you don’t have to look happy all the time. At least don’t be a fake in front of me, because I am your friend who wishes to see true colors of yours. And please, let me help you release the burden. Let me accompany you like when there were so many of you, good friends, have accompanied me through the long rough road. So, let me do the same thing as you did to me.    

Anyway, I loved when he said: “God hates me, but I’d forgiven Him already. I showed Him how much I care about Him. I pray, more than I used to.” I smiled reading the line. If only he sat in front of me, he would see my tears hanging on the corner of my eyes. In such situation, what’s more than a good humor (the one that I was lack of when I was ‘there’). And by then, I knew that he was stronger than I used to. So that I knew he’d be fine; because I am fine now. 

He asked me to see the dark sky at night if I ever wanted to meet him. So I opened the curtain to see the clear sky with the dancing stars as I recite what REM sang to me many many nights before now: “… Don’t let yourself go, cause everybody cries, and everybody hurts, sometimes, sometimes everything is wrong… hang on…” 

And tonight my dear friend, I let Miles Davis and friends play the “Blue in Green” for us. Cheers!  

::10:58PM; February 4, 2008 at Kerismas Hostel,

National University of Malaysia::

tough woman

•February 3, 2008 • Leave a Comment

mouth-small.jpg

also taken at thaipusam ‘08
ouch…look at her mouth! as her devotion toward Lord Murugan, she stuck a metal stick through her tongue so that she couldn’t say anything and just praying inside her heart and the more painful it was, the more the Lord vanished all her burden and sins.

my prayer

•February 3, 2008 • Leave a Comment

my prayer

one of my favorite pictures i took at Thaipusam, January 23rd 2008 in Batu Cave, Perak – Malaysia.

looking at the picture, somehow i could ‘hear’ him chanting his prayer as he climbed the stairs toward the tample. with bare feet and sun shines right from above his head, this 7 or 8 year-old young man keeping a jar of milk and honey, as his oblation.
belief, devotion… age doesn’t matter……..

mau curhat apa lagi? …

•February 3, 2008 • Leave a Comment

I don’t know what else can I write
For I am no longer have the privilege
to express whatever in my head and heart.

So I just want to recite what Anggun sang:

Try to spend my times with somebody new
But everyone still reminds me of you

Or what Natalie Cole said:

I love you for my life; you are a friend of mine

Or maybe I should do what I normally did in 2007:
Crying on my bed and wake up with so much relief.

You are my friend, my best one.
That what makes everything so hard to bear now.

thanks for the jazz… and cycling too

•January 19, 2008 • 4 Comments

Memang saya tidak pernah lupa dari mana saya belajar tentang jazz. Seperti tidak pernah lupa dari mana saya belajar memotret untuk pertama kalinya. Seperti pula tidak akan saya lupa siapa yang mengajarkan saya melempar, menangkap, memukul bola sampai saya mencintai softball. Bahkan tidak pernah lupa dari ingatan saya siapa saja orang yang begitu berjasa dalam prestasi yang pernah saya raih, Alhamdulillah. Itulah ilmu, yang tidak akan habis ketika kita membaginya. Tidak akan miskin apabila kita mensedekahkannya.

Papa yang mengajarkan saya memotret pertama kali menggunakan kamera SLR. Hunting pertama kami saat itu adalah Sudirman – Thamrin – Monas di waktu malam. Walau kini papa telah tiada, saya yakin ia tidak ingin saya berhenti belajar memotret hanya karena ia tidak lagi bersama saya. Ia pasti ingin ilmu yang diberikannya ke saya bermanfaat untuk saya dan juga sekitar saya. Betul-betul saya yakin bahwa sebagai orang yang berilmu pengetahuan, maka apabila ilmunya dapat ia bagi kepada saya, dan kemudian berguna bagi saya, pastilah papa bangga dan bersyukur.

Demikian pula dengan jazz. Terima kasih karena telah memperkenalkan musik yang sangat menarik bagi saya ini. Saya ingat betul pelajaran demi pelajaran, mulai dari mendengarkan Take Five (komposisi pertama yang bisa diterima kuping saya) sampai luruh mendengar Alabama dari John Coltrane. Mulai dari kerennya Spain sampai romantisme kami dengan Koln Concert. Mulai dari membedakan suara alto sax dengan tenor sax sampai mempelajari perbedaan gaya Monk dengan Bill Evans dalam “Round Midnight” mereka masing-masing. Semua diskusi tentang LMO (Liberation Music Orchestra) yang anti pemerintah amerika sampai “Olatunji”. Ilmu, mana bisa ia berhenti di tempat? Ilmu pengetahuan tidak bisa berhenti di tempat. Seperti Henry Ford pernah berkata bahwa seorang guru tidak pernah tahu sampai mana ilmu pengetahuan yang diajarkannya berujung. Begitu juga kamu yang telah memperkenalkan saya kepada jazz, saya yakin kamu tidak menginginkan saya berhenti mendengarkannya. Apa pula alasannya kalau ternyata kamu ingin demikian? Kamu telah menjadi guru dan ilmu yang telah kamu bagi kepada saya, mengapa kamu ingin tarik kembali? Dan apa kamu pikir bisa untuk ditarik kembali?

Saya juga ingat bagaimana saya pelan-pelan belajar untuk menjadi pengendara sepeda. Bukan saya tidak bisa bersepeda, tapi sebelumnya memang tidak kepikiran untuk bersepeda dengan rute: rumah (ciputat) – pintu1 senayan (dilanjutkan dengan latihan) – rumah (kalau tidak dijemput si Uno) atau rute pagi: rumah – sektor 9 bintaro – rumah. Selain bikin badan sedikit meramping, sepeda memberi daya tarik yang sangat mudah untuk saya cintai. Pertama, nyelap-nyelip di antara kemacetan mobil dan kalau sabtu siang bisa lebih cepat naik sepeda daripada naik bis kalau ke senayan. Kedua, karena bisa keserempet angkot atau nabrak gerobak (hehehe…pengalaman pribadi tuh), dan ketiga karena punya alasan kuat untuk hujan-hujanan =P dan akhirnya bisa ngeceng-ngeceng sambil digodain tukang ojek hehehe
Tanjakan, turunan, jalan berlubang, kotor-kotoran, nyuci sepeda, ngelap sepeda sambil nyanyi-nyayi… asli saya tidak bisa berpura-pura bahwa saat ini saya tidak rindu bersepeda.
Dan itu semua memang diperkenalkannya kepada saya, seakan ia memang mempersiapkan saya untuk menjadi pengendara solo yang harus bisa ganti ban atau bongkar pasang spare part sendiri. Dan ketika saya bisa, sebagai guru pastilah ia bangga. Maka, mana mungkin kalau saya berhenti mengenjot sepeda maka ia akan senang? Atau berharap agar saya tidak bersepeda lagi?! Tak ada guru yang demikian mentalitasnya, saya yakin.

Saya menyebutnya sebagai “the wisdom of knowledge”. Di mana ilmulah harta yang tidak akan habis dan tidak akan berhenti efeknya (dan tidak dapat dikembalikan pula) walaupun segala tali telah terputus.
Saya yang menerima, pasti merasa sangat rugi apabila ilmu yang telah saya pelajari dan membawa dampak positif pada diri saya, harus saya hentikan. Sementara si suhu itu, pastilah bahagia dan bangga apabila mengetahui ilmunya dapat memberikan perubahan yang positif bagi orang yang dibaginya.

Maka, apabila kamu mempunyai ilmu, dan ilmu itu adalah ilmu berharga yang dapat kamu bagi, mana bisa kamu mengatakan: “Hei nisa, gat au diri amat sih, kenapa masih dengar jazz juga? Kenapa masih sepedahan juga? … Mengapa masih motret juga?”

***
Dedicated to the shallow-minded person who said that nisa gatau diri karena masih bersenang2 (dan berbangga-bangga, katanya…kenapa saya harus bangga ya? Ga ngerti…), masih terus sepedahan dan denger jazz. Begitu katanya … ckckckckc…

resolusi … apa kali ini?

•January 9, 2008 • Leave a Comment

setiap awal tahun saya biasanya membuat resolusi baru yang saya tuliskan dalam buku harian saya. dan pada penghujung tahun, saya akan membukanya kembali untuk mengevaluasi mana harapan-harapan yang dapat saya capai, dan mana yang belum sukses. saya menuliskan resolusi tersebut pada satu atau dua halaman, dengan poin-poin nomor satu sampai sekian banyak. “anak yang banyak mau” memang sudah menjadi middle name saya =)

maka akhir tahun 2007pun saya membuka buku harian saya edisi desember 2006 dan januari 2007. dan cukup mengagetkan, bahwa di keduanya tidak saya temukan sebarispun harapan/ keinginan/ cita-cita yang menjadi resolusi saya di tahun 2007. tidak sedikitpun saya temukan ’spirit of new year’ di sana. maka saya merasa begitu sedih membacanya. ya, saya sedih dan memang layak untuk sedih.

Martin Lurther King Jr. pernah berkata, “the tragedy of life doesn’t lie in not reaching your goal. the tragedy lies in having no goal to reach”. dan tidak tertulisnya resolusi 2007 dalam buku harian saya membawa saya pada emosi bulan-bulan tersebut, yang hampa tanpa semangat. itulah tragedi. ketika hidup tanpa semangat, tanpa api cita-cita, tanpa gairah meraih impian.

2007 memang telah habis. saya berusaha menutup semuanya rapat-rapat. namun di awal tahun ini, bau busuk sisa-sisa setahun yang lalu masih menyeruak lewat celah-celah sempit, meminta untuk dihirup, menuntut untuk dipedulikan. namun saya tidak mau panik dibuatnya, namanya juga sisa-sisa. satu hari akan habis seperti bangkai yang berhujung pada tulang-belulang.

di pergantian 2007 – 2008 saya berada di teras rumah seorang teman lama, menyaksikan kembang api dari dua sudut (maklum, rumahnya di menteng jadi bisa melihat kembang api monas, taman menteng, dan senayan) sambil berkata pelan pada diri saya sendiri: “Sudah ya, selesai ya 2007. jangan kembali lagi… let me go… please.”

saya mengatakannya begitu pelan, dengan airmata yang tergantung di sudut pelupuk dan senyum yang saya usahakan. ya, benar-benar saya ingin memulai 2008 ini dengan senyuman. dengan harapan, dengan cita-cita, impian, … dengan resolusi.

walaupun saya selalu menulis resolusi (kecuali tahun lalu), namun belum pernah saya betul-betul berharap pada tercapainya resolusi saya di tahun 2008. benar-benar saya ingin satu perubahan yang signifikan pada diri dan hidup saya. sungguh-sungguh saya ingin kehidupan yang lebih baik, yang lebih bermakna bagi diri saya dan sekitarnya.

lulus..adalah resolusi pertama. lulus s2 ini, seperti biasa, ga ambisi apa-apa dalam hal ini selain bisa mendapatkan nilai yang sepadan dengan usaha dan kelayakan saya untuk mendapatnya. lulus dengan diberi-Nya kemudahan untuk mendapat ijazah master of education, itu saja.

selanjutnya yang pasti menjadi resolusi saya adalah mendapatkan pekerjaan. kerja.. kerja.. kerja.. itulah yang sangat penting untuk saya dapatkan di 2008. pekerjaan yang sesuai dengan minat dan aspirasi saya, dan bisa memberikan kecukupan bagi lahir dan bathin saya. yang ini sebenernya sangat tidak mudah, karena kerja sesuai aspirasi saya biasanya (menurut banyak pendapat) tidak mencukupi untuk kebutuhan yang lain… well, if i survive from 2007, i know the ammunition i’ve got to face the future =)

lalu… saya sangat berharap semua teman-teman yang berhasil saya ‘temukan’ kembali tidak menghilang lagi. atau saya yang menghilang (lagi). semua sahabat, teman, keluarga, telah terbukti keampuhannya untuk menyembuhkan saya, maka saya tidak boleh melepaskan mereka lagi. ever!

hidup lebih sehat, pastinya. rutin berolahraga lagi, sepedahan lagi, jogging lagi…dan pengennya sih softball lagi (asal menyehatkan ya..) biar lebih seger, bisa langsing (hihi), dan awet muda (hahaha)

nah, ini yang rada absurd bin kocak, saya kepikiran untuk lebih feminin dalam berbusana (hahaha). kenapa? simply karena pengen jadi orang yang beda aja =P however, se-femininnya saya, bisa nyampe mana sih..hehehe
tapi saya mau membahas tentang ini di lain cerita.

saya juga masih menyimpan resolusi yang sama seperti tahun 2005 menuju 2006, bahwa saya ingin sekali menulis dan mempublikasikan tulisan saya. dapatkan ia wujud pada 2008? whoooaaa… i’m so excited!!

dan 2008, saya harus sukses menciptakan semangat kembali!

ode to my past

•January 8, 2008 • 1 Comment

Do you remember, Nisa… 

Waktu pertandingan softball Georgeus Cup di Bandung di 2004;

Setiap pagi Rebels makan bubur ayam sampai mamang-nya asyik “terserah” aja sama pesanan tiap orang yang berbeda: ayamnya pakai tulang/ sambelnya banyak/ ngga pakai bawang goreng/ cakwenya tambah/ kerupuknya lebihin/ ngga pakai kacang…

Dan Bulbul salah kostum dalam dua hari berturut-turut.

“Gue ngga’ cocok sama umpire-nya,” kata inem gaya banget.

Setiap pagi – siang – sore – malam tidak ada hari yang terlewat tanpa ketawa-ketawa. Saling mentertawakan, tepatnya.

Dan selalu diakhiri dengan apresiasi Bung Hasyim: “Thank you, ya!”  

Do you remember, Nisa… 

Waktu SMU duduk-duduk di bawah pohon setiap pagi, di depan kelas 3 IPA 2 bareng Citra dan Winda, membahas kisah cinta ironi masing-masing. Sampai pernah juga berantem sama Citra, yang menimbulkan salah paham di kalangan teman-teman karena kita dituduh berantem gara-gara rebutan cowok, halah-halah…

Dan Winda selalu ngga nyambung tapi kelihatan banget berusaha supaya ngga terlihat terlalu bolot, tetapi selalu aja terlambat usahanya sebab dia seringkali malah terlanjur bolot =)

Dan perpisahan kelas 2.11 jalan-jalan ke Bandung, dan duduk-duduk di Dago Tea House di malam yang romantis sekali, ketawa-ketawa menyaksikan parodi cowok-cowok tentang satu tahun di kelas yang sama.Tentang prom nite, dan cerita ini selalu berujung kepada kebanggaan diri Dizz, band yang mengaku paling eksis di kalangan 6/97.   

Do you remember, Nisa… 

Di tahun 2003, setelah genap lima tahun melepaskan putih-abu abu, bersama kawan-kawan kita mengadakan reuni “Kembali ke Sekolah”. Rapat demi rapat yang membuat nisa semakin sayang dengan kawan-kawan lama. Malam sebelum hari H kita menginap di salah satu ruang kelas SMU 6, dan esoknya setelah acara selesai, baru nisa sadar satu hari satu malam nisa tidak makan, maka penutupan acara jam 7 itu menjadi bayangan yang penuh kunang-kunang. Namun sebelum terjatuh, seorang laki-laki dari masa SMU dulu menopang nisa… dan semua imaji kembali seperti masa sekolah…satu hari kembali ke sekolah, hanya satu hari itu saja. Begitu menyenangkannya.  

Do you remember, Nisa… 

Ketika SD nisa tidak dianjurkan untuk duduk di bangku depan, walaupun nisa suka berhadapan langsung dengan guru dan papan hitam yang memenuhi dinding. Karena nisa duduknya suka ngangkang dan sepertinya tidak bisa diubah, maka akhirnya nisa dianjurkan untuk duduk di belakang.

Ketika SMP nisa patah hati untuk yang pertama kalinya, ketika laki-laki yang membuat nisa semangat pergi ke sekolah curhat tentang gadis pujaannya, bahkan meminta nisa untuk menuliskan surat cinta untuk gadis tersebut. Nisa yang lugu dalam urusan percintaan memang tidak pernah tahu bagaimana mengekspresikan isi hatinya.

Dan akhir masa SMP, nisa sempat dipanggil kepala sekolah karena membawa bat softball dengan alasan proteksi diri dari tawuran. Dan akhirnya masa coret-coret baju sekolah masih terpajang dalam album foto, dengan senyum lebar, lompatan, dan keceriaan yang lumayan berlebih.  

Do you remember, Nisa… 

Satu hari setelah sidang skripsi, nisa bersama Conkey si Honda bebek ’70 melintasi selatan jogjakarta. Mula-mula jalurnya sangat familiar sebab beberapa bulan lintasan tersebut selalui dilalui kalau ke desa Pundong, Bantul untuk kepentingan KKN. Namun nisa dan Conkey tidak belok kiri, nisa terus lurus dan lurus sampai jembatan, sampai “Selamat datang di Parang Tritis”. Kasihan Conkey, badannya mulai memanas. Akhirnya nisa berhenti dan duduk di tepi pantai, membiarkan conkey dikipasi angin laut. Dan nisa, merasakan dinginnya patah hati yang kesekian kalinya. Sendiri, jauh dari siapa-siapa, dan sempat cemas, mampu ngga ya conkey kembali berjalan lebih dari 42 km untuk kembali ke kos-kosan?  

Do you remember, Nisa… 

Bersama chupa (motor pertamaku, si yamaha force one), mas ian, nando, dan mbak yani, kita bermotor ke Bromo. Kita mampir di grojogan sewu, lanjut sampai tengah malam tiba di Malang dalam keadaan motor yang cukup malang juga. Esok paginya kita keliling kota Apel, ke Batu, dan lanjut ke Bromo. Dinginnya membuat nisa terus bernyanyi dan berteriak-teriak sampai mas nando yang ngeboncengin ketawa-ketawa mendengarnya. Di salah satu tanjakan nisa harus dorong Chupa supaya bisa naik, dan di padang pasirnya kita jatuh dari motor…   

Do you remember, Nisa… 

Di 2002 ayu riszti membacakan narasi di hadapan saksi akad nikah papa dan ibu aty. Mereka yang berada di sana seperti tersulap, air menitik hampir dari setiap pasang mata. Haru, dan akupun begitu. Tidak kuduga, apa yang kutuliskan di lembaran kertas untuk dibacakan kakak sulungku, bisa mendapatkan apresiasi yang indah.   

Do you remember, Nisa… 

Pada saat berdiri di garis start, di terik Surabaya 1990, mata nisa selalu mengarah pada belokan pertama yang di depan mata. Nisa merancang di titik mana maneuver harus mulai dilakukan. Bagaimana berpacu dengan waktu, melawan panas melawan lelah dan akhirnya melewati garis finish dengan waktu tercepat. Dan nisa berfoto dengan mama dengan empat medali emas kejurnas terkalungi.   

Do you remember, Nisa…

Do you?

Do you, really? 

Pada saat tahun berganti, dan hari kemarin terasa begitu menyesakkan, nisa memang harus mengingat. Ingat pada segala hal yang pernah nisa lewati, nisa alami, dan nisa nikmati.Betapa banyak kebahagiaan yang nisa dapat, yang mungkin tidak nampak di 2007. Maka nisa harus mengingat lebih kuat, nisa harus ingat detil demi detil yang benar-benar terjadi.

Pada kejuaraan softball antar universiti di Malaysia, pada saat bersama Sam dari Spomax, pada saat ke Selasar Sunaryo bersama Indri, Eric, dan Tom, pada hunting sepeda di Malaysia – Singapore, pada art dan jazz di Singapore, pada piknik The Faridzs di Sentosa Island, Zoo, dan Orchard Rd., dan pada keindahan Desember sebagai puncaknya. 

Kalaupun begitu sulitnya menjadikan kenangan tersebut indah karena tertutup luka duka, maka ingatlah lebih keras ke tahun-tahun sebelumnya, bahkan belasan tahun sebelumnya. Begitu banyak kenangan manis yang nisa pernah lalui, yang seharusnya menjadikan nisa begitu kaya dan bermakna.

Kalau masih lagi susah mengingat semuanya, maka hampirilah kawan-kawan. Yang bisa mengingatkan betapa diri nisa memiliki begitu banyak potensi positif, potensi menuju kebahagiaan. Kawan adalah warisan masa lampau yang terus membawa berkah hingga hari ini, dan untuk masa depan.    

Dedicated to my friends in Jakarta;

Thanks for the wonderful December 2007         

kehormatanku, jangan kamu usik!

•November 24, 2007 • Leave a Comment

Kolom Resonansi di www.republika.co.id edisi kemarin memberikan satu pesan yang berkesan buat saya.

Asro Kamal Rokan, penulis kolom tersebut mengangkat gosip tentang urusan rumah tangga SBY. Zaenal Maarif memang mungkin saja tidak menyebarkan berita bohong, dan kalau gosip tersebut terbukti benar, lagi-lagi kasus ini bisa merembet kepada banyak hal, selain status militer SBY (yang juga akan berimplikasi pada status kepresidenannya), juga tentang disiplin sistem pendidikan akademi militer indonesia yang “kok bisa diterima padahal sudah menikah?”.
terlepas dari kebenaran berita tersebut, menurut saya pribadi apa yang dilakukan Zaenal terlalu kekanak-kanakan (hmm, apa politik memang selalu kekanak-kanakan ya?). pertama, hal tersebut pasti tidak terlepas dari pencopotannya sebagai wakil ketua DPR. sangat tidak dewasa menerima kenyataan dan mengakui kekalahan secara legowo (IF, he consider that his position is ‘the battle’, then he lose, admit it, man). mengaku-aku ’sayangi’ SBY (Media Indonesia, 31/07/07) benar-benar alasan yang ‘ngga banget’ deh pak. ga logis abees.
kedua, setuju dengan Asro, kasus ini sangat buang-buang waktu, menyita perhatian dan energi yang sangat ‘ngga penting banget’. indonesia sudah tertinggal dalam begitu banyak bidang dengan negara lain, dan kasus yang malah saling lapor polisi atas ‘pencemaran nama baik’ dan sebagainya (bahkan sampai ada acara doa bersama antara Zaenal dengan wartawan, ckckckck cape deeh) benar-benar bikin saya tambah malu jadi orang indonesia karena pemimpinnya asik sibuk mengurus masalah-masalah rumah tangga.

soal isi gosipnya, terus terang saya juga tidak tertarik. buat saya, selama belum bisa dikritisi, belum ada bukti yang autentik, hal tersebut cuma jadi gosip yang kebetulan sangat ngga penting. tapi yang menarik adalah memetik pelajaran dari perbuatan Zaenal.
dalam keadaan yang terdesak, yang merasa diinjak haknya, yang merasa didzhalimi, ternyata orang memang bisa bereaksi ke mana-mana, sampai pada melakukan hal yang ‘ngga nyambung’. yang penting buat dia mungkin ‘kepuasan’ melihat orang lain yang menurutnya sudah menghancurkannya, juga ikutan hancur. lalu? ya sudah, sama-sama hancur dengan semangat: “kalo gw ancur, lo juga harus ancur”.
pokoknya mau relevan atau tidak, signifikan atau tidak, yang penting ancurin dulu! tanpa berfikir panjang efek perbuatannya, maka perang pun dia buka. ya, tanpa berfikir bahwa hal tersebut bisa lebih jauh menghinakan dirinya sendiri.

godaan selalu ada pada setiap keadaan. bukan hanya ketika senang dan bahagia, bahkan ketika tertindas dan didzhalimi pun godaan untuk ‘balas dendam’ dan hancur menghancurkan seperti yang dilakukan Zaenal pasti ada. apalagi kalau kita punya ‘kartu truf’ lawan kita, wuiiih… sedap banget tuh.
tapi ya itulah godaan, kalau kita bisa melewatinya, maka ‘kelas’ kita akan bertambah tinggi. dan saya benar-benar memohon pada Allah, supaya dalam keadaan sebagaimanapun, Ia selalu memelihara saya dan menjaga kehormatan saya dari perbuatan-perbuatan yang hina. saya memohon agar hati saya selalu dijaga dari dorongan untuk berbuat jahat, membalas dosa dengan dosa lain, sebab Rasulullah berkata: “Takwa itu ada di sini (Rasulullah menunjuk dadanya dan mengucapkannya tiga kali)”, kemudian hadis tersebut dilanjutkan dengan: : “Sudah cukup kejelekan seseorang yang menghina saudaranya sesama Muslim. Muslim satu dengan yang lain haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya…”
Wow, kehormatan memang segala-galanya bagi umat islam, so dont mess up with my dignity! :)

the boy in the striped pyjamas

•November 24, 2007 • Leave a Comment

Tadi malam mata saya lagi-lagi dibikin berkaca-kaca oleh sebuah buku (dan pastinya perasaan saya dibikin semakin ciut; “duh, orang nulis novel pada bagus-bagus amat sih… kapan dong saya bisa nulis seperti itu).
Pertama-tama tentunya saya mengucapkan terima kasih banyak buat Ms.Kiki, my best curry-puff friend. Buku “The Boy in The Striped Pyjamas” (Anak Lelaki Berpiyama Garis-garis, ditulis oleh John Boyne) adalah hadiah darinya (lengkap dengan catatan kecil untuk saya di halaman pertama: “Life Rocks, Nisa! You rocks! Love, Kiki Suriki.”). Dan memang kelihatannya sebagai the Gemini-ers kami punya persamaan, hobi baca cerita-cerita yang ironis (but I’m not so drama queen as you, mezz hehehe).
Bukan buku yang tebal dan bahasanya pun sederhana sekali. Sehingga tidak perlu berhari-hari untuk menamatkan buku dengan cover yang cukup baik tersebut (terima kasih Gramedia yang menerbitkan edisi Indonesia dengan mementingkan estetika cover buku :) ). Isi ceritanya juga bukan sesuatu yang kompleks, walaupun setting dan periode kejadian tersebut berada pada kondisi sosial politik yang kompleks (it’s complicated, kalau kata friendster..lengkap dengan TM).
Tentang seorang anak laki-laki normal, Bruno, berumur sembilan tahun yang secara natural bete sama kelakuan kakak perempuannya yang mulai puber, dan cinta dan bangga sekali dengan ayahnya. Kebanggaan pada ayahnya yang seorang komandan penting, yang gagah dengan seragam berlogo swastika (dan tentunya anak ini tidak pernah tahu apa makna logo tersebut). Seorang ayah yang bekerja sepenuh jiwa raga demi puncak karier militernya.
Jiwa petualang Bruno membawanya kepada persahabatan dengan seorang anak lelaki sebayanya, Shmuel, yang lahir pada hari bulan dan tahun yang sama dengannya, mempunyai ukuran tubuh yang sama namun lebih kurus dari Bruno, dan bedanya lagi, anak ini selalu mengenakan ‘piyama’ garis-garis (yang sebenarnya adalah seragam untuk kaum yahudi yang berada di kamp Aucshwitz).
Bab demi bab menceritakan kehidupan keluarga sang komandan dan juga persahabatan dari sudut pandang anak sembilan tahun yang naïf dan … kadang menyebalkan. Misalnya ketika Bruno terus-terusan mengeluh tidak adil karena Shmuel punya banyak kawan yang tinggal bersamanya sementara dirinya harus tinggal bersama kakak perempuannya yang sinis dan menyebalkan. Seandainya Bruno mengerti… saya sendiri tidak yakin, apakah seharusnya anak sembilan tahun seperti mereka mengerti apa yang terjadi di sana saat itu?
Tidak seperti persahabatan Bruno sebelumnya dengan kawan-kawannya di Berlin, selama setahun yang mereka dapat lakukan hanyalah duduk bercakap-cakap di bawah pohon dengan sebaris pagar kawat tinggi memisahkan mereka. Sampai suatu ketika naluri petualangnya membawa Bruno lebih jauh, menerobos pagar yang memisahkan dirinya (yang adalah ras unggulan, menurut Der Fuhrer) dengan kelompok tawanan yahudi. Usaha itu disempurnakan oleh piyama garis-garis yang dibawakan Shmuel untuk dikenakan Bruno demi penyamarannya di ‘balik pagar’. Dan ZAP! Jadilah ia bagian dari kaum ‘terhina’ itu.
“… sulit sekali membedakan mereka berdua. Rasanya seakan … mereka semua sebenarnya sama …” begitu kata Shmuel (Hmm, kenapa semakin dewasa kita justru makin jauh dari kebijaksanaan anak-anak ya?).
Pheew… Saya menghela nafas dalam-dalam ketika Bruno yang berada di barisan ‘piyama garis-garis’, diantara tembakan-tembakan dan teriakan tentara-tentara nazi, berharap agar ayahnya segera datang dan menghalau anak buah-anak buah ayahnya tersebut yang tidak berhenti-berhenti menyakiti mereka. Kabar terakhir yang diceritakan tentang Bruno adalah ia, Shmuel dan ratusan orang berpiyama garis-garis lainnya masuk ke dalam ‘ruangan panjang’ yang gelap dan tak berudara, dan bukan untuk berteduh dari hujan.

Akhir cerita ditutup dengan tangisan sang ayah di tepi pagar ketika ia melihat baju Bruno dan menyadari ada celah di bawah pagar yang bisa diterobos anak sebesar Bruno. Sejak itu ia merasa tidak ada yang penting lagi dengan kariernya…

Saya teringat satu lagunya Cranberries yang berjudul “War Child”. Dalam lagu itu Dolores bilang: selalu anak-anak yang menjadi korban perang, tidak peduli siapa yang menang dan siapa yang kalah, anak-anaklah yang selalu menjadi korban kepentingan politik dan teritori.